Tampilkan postingan dengan label cerita pilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pilu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Desember 2013

Blog cerpen - Maafkan aku Ayah

Perlahan kuarahkan badan yang dari tadi memintaku ke tempat ini. Tempat dimana terdapat sepetak ruangan yang terhiasi foto sesosok perempuan berhijab putih. Senyumnya yang menawan terlihat begitu mempesona dibaluti wajah yang bercahaya.
“Hallo bunda” tanyaku ke arah foto itu sambil mengusap lalu mencium foto itu.
“Bunda, hari ini hari pertamaku sekolah di SMA bunda tau? Aku punya banyak teman baru, rasanya senang sekali bunda. Besok juga hari ulang tahunku hari dimana aku dilahirkan dari rahimmu 16 tahun yang lalu” lirihku pelan. Ada yang aneh saat aku melihat foto bunda rasanya aku merasakan kerinduan yang mendalam.
Tidak jauh dari foto itu terdapat sebuah kasur kecil.
“oh kamarku” sambil kuhempaskan badan ke kasur itu, panjang kasur itu kira-kira hanya sampai betis kedua kakiku bahkan lebarnya hanya cukup untuk dua orang itu pun ukuran satu orang dewasa dan seorang anak kecil seperti dulu waktu aku tidur selalu ditemani bunda tepat di kasur ini. Aku pun terlelap sampai pagi hari.
Pagi harinya di ruang makan, ayah telah menungguku untuk sarapan pagi.
“Bagaimana del sekolahmu kemarin?” Tanyanya lembut.
“Menyenangkan sekali ayah, aku juga sudah menceritakan semuanya pada bunda. Oh iya ayah, Bunda masih tidur?” tanyaku sambil melirik kamar bunda.
Aku melihat jelas ayah memalingkan muka dariku dan aku tahu ayah menangis tapi ayah tidak ingin aku mengetahuinya. Aku benar-benar kebingungan kenapa saat ku tanya mengenai bunda ayah malah menagis, mungkin ayah sedang ada masalah dengan bunda pikirku.
Ayah pun kembali melihat ke arahku, tangan ayah mulai merangkulku dia memeluku erat tapi lirihan tangisannya masih terdengar.
“Deeel, kenapa dela?” perkataannya semakin membingungkan. Entah kenapa
melihat ayah seperti itu, aku seperti mengingat sesuatu yang pernah terjadi, sesuatu yang membuat ayah dan aku sakit. tapi kejadian apa itu?
“ayo del berangkat sekolah” suara ayah pelan tangannya terasa gemetaran saat melepaskan pelukannya tadi, aku pun bergegas menuju mobil.
Sepanjang jalan aku hanya memperhatikan ayah menyetir sesekali ayah menengok ke arahku lalu dia tersenyum. Tapi senyumnya seperti sedang menyuratkan kalau ayah sedang terluka. kenapa ayaah? ada apa ini ayah? teriak batinku.
Setiba di kelas aku masih merenungkan sikap ayah tadi hampir berapa pelajaran yang tidak aku perhatikan. Waktuku hanya kupakai untuk melamun sambil memutar-mutarkan pulpenku hinggga akhirnya lamunanku buyar saat mendengar bel di jam terakhir pelajaran.
Sambil berjalan pulang aku memutuskan untuk menelpon bunda. Tapi bunda tidak mengangkatnya, aku telpon lagi dan lagi tapi jawabannya tetap sama hanya bunyi “tut tut tut” yang terdengar. bunda kenapa bunda?” gumamku.
Sesampainya di rumah, aku langsung pergi ke kamar bunda tapi bunda tidak ada. Langsung saja aku pergi ke kamarku, rasanya aku sedang dipermainkan oleh tingkah laku ayah dan bunda. “braak” kubuka pintu kamarku dan ternyata bunda ada disana, duduk di kasur itu sambil tersenyum. Aku langsung menghampiri bunda “bunda kemana saja? bunda kenapa tidak mengangkat telponku? bunda, ada apa dengan bunda dan ayah?” kataku gelisah, tapi bunda tidak menjawabnya bunda hanya duduk dan tersenyum dari tadi. Kedua tanganku sudah gatal ingin memeluk bunda perlahan tanganku kuarahkan ke arah bunda. Tiba-tiba telpon rumah berbunyi tanganku batal memeluk bunda. “biar aku yang mengangkatnya bun, bunda tunggu disini sebentar yah” lagi-lagi bunda hanya diam.
“Hallo del, ini ayah. nanti pulang dari kantor, ayah akan menjeput kamu. kamu siap-siap yah ayah mau ngajak kamu ke teman ayah” ternyata itu telpon dari ayah.
“oh iyah. Tapi ayah bunda diajak atau tidak? di kamar ada bunda” jawabku.
“del, sabar yah del kamu pasti sembuh”
“sabar apa ayah? sembuh? aku tidak sakit kok yah”
Tak terdengar lagi jawaban ayah, ayah sudah menutup telponnya. pembicaraan ayah membuatku bingung, aku memperhatikan gagang telepon sambil menghentak-hentakan kaki ke lantai “aneh, ada yang aneh”. Hentakan kakiku kuhentikan aku teringat bunda, aku langsung berlari ke kamar dan tenyata bunda sudah tidak ada, aku cari ke sekitar rumah hasilnya tetap tidak ada, “bunda pergi lagi” bisiku sedih. Perasaanku kali ini benar-benar diambang kebingungan bukan hanya bingung rasanya aku ingin sekali marah pada ayah dan bunda.
Kutunggu ayah di depan rumah, terdengar dari jauh suara klakson ayah. Ayah melambaikan tangannya ke arahku, aku pun menghampirinya. Sekitar 5 menit semenjak berangkat ayah hanya diam tangannya sibuk membulak-balik setir”. Ayah, aku tadi ketemu bunda tapi kok bunda diam saja ya yah. Ayah apa bunda marah sama ayah? ayah, bunda…” tak sempat kuteruskan, lagi-lagi ayah menangis, mobilnya dihentikan tiba-tiba. Ayah melihat ke arahku tajam seperti orang yang akan marah, tapi ayah malah menangis lagi lalu melanjutkan laju mobilnya tapi bukan lagi ke arah depan melainkan balik lagi ke arah pulang. Ayah bilang besok saja ke rumah teman ayahnya.
Malam ini pun menjadi malam yang paling kubenci rasanya alam seperti sedang menertawakan apa yang sedang kualami, aku sendiri. bunda aku rindu, bibirku tak henti-hentinya mencium foto bunda. rasanya aku sudah tidak kuat, kulihat ada seseorang yang sedang memperhatikanku di luar jendela dan oh itu bunda, segera aku keluar dan menghampiri bunda.
Seperti biasa bunda hanya diam berdiri dan tersenyum tapi kali ini bunda menggenggam tanganku, tangisku pun pecah rasanya rasa rinduku tersampaikan. kami pun tersenyum bersama.
Di balik pintu aku melihat ayah melihat ke arahku dengan pandangan aneh, kemudian ayah menangis lagi ayah pun pergi dari pintu masuk ke dalam. Aku menghela nafas “bunda ayo masuk ayah menangis lagi bunda” kataku pada bunda. Seperti biasa bunda hanya diam. “Kalau bunda tidak mau masuk rumah, bunda masuk ke kamar saja lewat jendela” bunda hanya tersenyum. “aku masuk bunda” izinku kepada bunda. Aku pun pergi ke dalam rumah, baru sampai pintu aku melirik ke arah bunda tapi bunda sudah tidak ada, aku berfikir bahwa bunda takut terhadap ayah.
Aku masuk ke kamar ayah, ayah sedang duduk di kasur tangisannya kini tidak disembunyikan dariku, aku usap dengan jariku air yang keluar dari mata ayah itu. Aku menunggu sampai air mata ayah tak menetes setetes pun. “Ayah, ayah kenapa menangis terus? di luar ada bunda. Aku ingin ayah mengajaknya masuk ke dalam yah, kasihan bunda” mohonku kepada ayah. Mata ayah kini terbelalak “Della sudah cukup! di luar tidak ada siapa-siapa hapus bunda dari bayanganmu Della” teriak ayah. Aku terluka dengan perkataan ayah, ayah sudah tidak menganggap bunda. Bagaimana bisa ayah menyuruhku melupakan bunda? sosok paling sempurna? Aku keluar dari kamar ayah tanpa mengatakan sepatah kata pun, perkataan ayah tadi membuatku jadi benci dengan ayah”. Del, maafkan ayah del, ayah hanya..”. “bruuk” aku langsung menutup pintu kamarku keras tanpa menghiraukan ayah yang sedang berbicara padaku.
Aku menangis sejadinya, aku dibuat bingung oleh ayah lalu aku dibuat sakit juga oleh ayah. Bunda datang ke arahku lalu tidur di sampingku tapi ada yang berbeda kali ini, bunda datang tanpa senyuman bunda hanya diam dan menatapku sedih sepertinya bunda tidak menyukai sikap kerasku tadi pada ayah.
Pagi pun datang, Bunda hilang saat aku membuka mataku. Aku bersiap memakai seragam lalu pergi ke ruang tamu. Di ruang tamu ayah sedang makan lalu memandangku tapi ayah tidak berkata apa-apa. “Ayah, kenapa sikap ayah jadi begitu sama bunda? dulu ayah saungat menyayangi bunda begitu pun bunda. Buktinya tadi malam bunda sedih melihat aku bersikap seperti itu terhadap ayah? Bicaraku panjang.
“Bunda? Dimana kamu bertemu bunda? Dimana? Sudah ayah bilang jangan dipikirkan lagi del!” suara ayah keras.
“Ayah ada apa dengan ayah? Aku benci ayah! Aku benci. Tega sekali seorang ayah memisahkan anak dari bundanya”. Bentakku terhadap ayah “cukup dela, sekarang kamu tidak usah sekolah dulu, kamu harus bertemu dengan teman ayah” belum sempat aku menjawabnya tanganku sudah dipegang erat oleh ayah sampai ke mobil. Kali ini ayah benar-benar sedang marah. “aku benci ayah, aku benci ayah” ucapku sepanjang perjalan. Ayah hanya diam terlihat matanya berkaca-kaca tangannya gemetaran.
Akhirnya aku sampai di teman ayah “kenalkan del, ini om Jason teman ayah” aku melihat tanda pengenalnya yang tergantung di jasnya dan ternyata dia seorang psikiater. “Tapi kenapa ayah membawaku kesini” komentar batinku. Ayah meninggalkanku sendiri lalu aku duduk di kursi nyaman ini tempat duduku berhadapan dengan tempat duduk om Jason dan di tengah ada meja persis seperti pasien yang sedang berkonsultasi dengan psikiater karena ada sedikit gangguan jiwa.
“Della, kamu baik-baik saja kan”
“seperti yang om lihat aku sangat baik om”
“Bagaimana dengan ayah dan bundamu Del?”
“mereka baik juga om”
“om kan sudah bertemu ayah jadi tau keadaan ayahmu, tapi kabar bundamu bagaimana del?”
“bunda juga baik kok om”
“memangnya kapan terakhir kamu ketemu bunda? Bagaimana bundamu sekarang?”
“dia baik om” jawabku ketus karena menanyakan bunda terus.
“apa kamu sering ngobrol sama bunda, apa kamu ketemu bunda ketika kamu sedang menghayal?”
Aku tersinggung dengan perkataan om Jason, dia kira aku bertemu bunda hanya hayalan saja. Aku keluar ruangan tanpa pamit, di jalan aku teringat pertanyaan om Jason tadi kalau aku bertemu bunda ketika aku sedang menghayal saja. Aku merasa itu sedikit benar, tapi mungkin juga itu kebetulan saja bunda datang ketika aku sedang mengahayal, pikirku.
Di luar ayah menghentikanku yang berusaha menuju mobil “Della, tunggu della! Kamu harus konsul sama om Jason agar kamu cepat sembuh dell” teriak ayah dari kejauhan. “konsul? Aku tidak gila ayah, Aku waras ayah. Mulai sekarang aku tidak ingin jadi anak ayah lagi setelah ayah menyuruhku melupakan bunda kini ayah malah menganggapku gila. Aku benci ayah” jawabku gemetaran. Air mataku turun aku berlari ke jalan. Ayah berusaha mengejarku sambil berkali-kali meminta maaf kepadaku. Tapi aku sudah tidak sudi untuk menolehnya. Tiba-tiba terlihat mobil di depanku dan “braaak” mobil itu menabrak. Pengelihatanku buyar.
“tet, tet, tet” suara alat yang tergantung di sampingku terdengar menakutkan. Perlahan aku buka mataku, sedikit sakit. Ini bukan di rumah, ini di rumah sakit. Tapi tubuhku berada di sofa bukan di kasur pasien. Kepalaku menoleh ke arah pintu lalu ke arah kasur. Dan, ayah? Ayah sedang terbujur kaku di kasur itu kepalanya penuh perban. Selang terlilit dimana-mana. Ternyata tadi itu yang tertabrak mobil adalah ayah, ayah yang menolong aku saat itu. “Ayaaah” ucapku penuh penyesalan. Aku langsung menghampirinya, tangannya terasa dingin aku memeluknya tapi matanya tetap tidak terbuka.
Di saat seperti ini bunda tidak ada, rasanya aku ingin pergi ke tempat tinggi, dan benar saja sekarang aku sudah berhasil ada di gedung tertinggi di rumah sakit itu aku memutuskan untuk loncat dari sana. Dan kali ini pkiranku digenggam setan. Selangkah, dua langkah, selangkah lagi aku mungkin sudah menjadi mayat. Tapi langkahku ketiga terhenti oleh bayang-bayang ayah yang terbujur kaku di rumah sakit. Aku mengurungkan niatku untuk melakukan hal yang paling bodoh itu. Aku tatap awan itu lalu aku diingatkan oleh kebersamaan keluarga kecil kita ayah sangat menyayangi bunda. Kami tertawa bersama saat memberi kejutan di hari ulang tahun bunda. Nostalgiaku terhenti saat ingat perkataan ayah tentang aku harus bisa melupakan bunda, lalu beralih ke bunda yang setiap bertemu hanya diam dan yang terakhir pikiranku mengarah ke om Jason yang mengatakan kalau aku pasti sedang menghayal setiap kali bertemu bunda. “Ada yang tidak beres” sangkaanku.
Saat itu juga aku memutuskan untuk ke rumah om Jason. Sesampainya di rumah om Jason aku langsung menanyakan ada apa dengan semua ini.
“kamu sudah siap mendengar kebenarannya della” tanya om Jason.
“katakan, katakan sekarang!” jawabku sedikit emosi.
“Della, sebenarnya bunda kamu sudah meninggal sehari sebelum hari pertama sekolah SMA kamu. Bunda sakit dell, hanya saja kamu tidak akan ingat karena kamu mempunyai sedikit trauma (trauma ditinggalkan orang yang disayang) dan trauma itu yang menyebabkan kamu tidak ingat bahwa bunda sudah tiada. Trauma itu akan sembuh jika kamu sudah ingat dan salah satu orang yang melarang untuk memberitahumu adalah ayahmu. Dia tidak ingin melihat kamu terluka atas kenyataan bahwa bunda sudah meninggal. Dia berusaha mati-matian agar kamu tahu hal ini dengan sendirinya tanpa diberitahu orang lain. Dia ayah yang luar biasa dell”.
“Braaak” badanku tumbang ke lantai. Batinku hancur gemuruh emosi bergejolak di jiwa. Aku menyesal bertingkah laku seperti itu kepada ayah. Hati rasanya tertancap bambu paling runcing saat tau bunda sudah tiada.
Aku berlari secepatnya ke rumah sakit. Dan Ya Tuhan…
Badan ayah sudah ditutupi kain putih. Senyuman terakhir di mobil, pelukan terakhir di ruang tamu bahkan genggaman terakhir saat aku diseret ke mobil tak pantas rasanya ku dapatkan karena saat itu aku malah membalas dengan bantingan keras pintu kamar saat ayah meminta maaf, lalu saat aku mengatakan bahwa aku benci ayah, dan terakhir kali ketika ayah mengejarku sambil meminta maaf yang tak kuhiraukan sama sekali. Tuhaan ambil saja aku! jangan dia, seorang ayah paling sempurna.
Ayah, gagahnya ombak laut tak segagah ayah ketika sedang menjagaku.
Tegarnya para pahlawan menghadapi lawan, tak setegar ayah saat menghadapi aku yang berkali-kali mengatakan kata benci kepadamu ayah.
Sempurnanya para pujangga menyairkan sajak-sajak puisi tak sesempurna tanganmu ketika siap merangkulku saat aku diasingkan oleh dunia.
Ribuan kata cinta yang kuucapkan sekarang biar menjadi saksi bahwa aku menyesal yah.
Aku sayang padamu Bunda
Dan Ayah…
“Maafkan aku ayah”

Cerpen Karangan: Rida Rizki 
[Continue reading...]

Sabtu, 28 Desember 2013

Blogcerpen - Bunga terakhir untuk Tias

Pada suatu pagi yang cerah di sekolah sedang ada acara kelulusan sekolah sma sederajatnya, para siswa sudah melewati masa-masa menegangkan saat pengumuman kelulusan dan pulang dengan hasilnya memuaskan seluruh siswanya lulus. di depan sekolah smk10  johor,sehabis pulang sekolah   rendi menjemput kekasihnya tias sepulang sekolah, rendi adalah anak dari pengusaha penjual bahan bangunan dia sudah lulus sekolah 5tahun sebelum tias, antara sekolah mereka hanya berjarak 20m setiap bertemu tias  rendi selalu bawakan bunga mawar untuk tias .
"hay bebz " sahut rendi sambil pegang setangkai bunga mawar untuk di kasihkan ke tias
Tias merasa senang karna setiap pulang sekolah selalu di jemput rendi dan dia romantis .
" makasih ya bebz.." sahut tias sambil naik kemotor rendi dan memasang helmnya
Di perjalanan mereka berbicara
" dah ngga kerasa hari ini adalah hari  kelulusanku ya bebz" ucap tias ke rendi
" bagaimana kalau kita rayakan di cafe tempat kita biasa bertemu bebz"  usul rendi 
Tias terdiam lalu  berpikir dia merasa biasa kalau harus merayakannya di cafe paporite mereka
" gini aja bebz kamu main aja kerumah aku. Aku bakalan masak enak buat kamu" seru tias dengan senang, rendi pun merasa cukup senang
" wah ide bagus bebz.. Aku setuju aja.." kata rendi lalu tias menepuk pundak rendi yang lagi bonceng dia
" tapi sebelumnya kamu temenin aku kepasar dulu ya, beli bahannya" ucap tias
"oke-oke jadi putar arah nih ngga jadi pulang gowes pasar" dengan semangat rendi memutar arah motornya dan mereka menuju pasarloak.
"oke sudah sampai, yang tugasnya beli kamu bebz aku bantu bawa keranjang nya aja ya "  tawar rendi
"iya - iya " jawab tias dan di pasar mereka asik berbelanja, tias sibuk memilah bahan makanan yang akan ia masak, rendi aga kerepotan karna kesana kemari bawa keranjang belanja tias.
" aduh bebz kesana kemari sebenarnya mau masak apa sih" rendi mulai mengeluh kepada tias
" sabar bebz. Aku lagi perlu satu bahan lagi buat masakan, pokonya nnty bakal bikin masakan spesial dari aku"  sambil sibuk berjalan mencari bahan tias mengatakannya, rendi masih penasaran hanya mengiya kan ucapan tias tadi.
Hampir satu jam mereka berbelanja dan sudah selesai
"ayo kita pulang" ajak tias
"yuk" sambil bwa kan barang tias rendi menuju motornya untuk pergi.
Sesampainya di rumah tias,
"bebz aku pulang dulu ngga enak kalau ngga ganti pakaian " sambil turun dari kendaraan tias menganggukan kepalanya.
"iya bebz, tapi nanti langsung kesini ya, awas kalau ya kalau ngga datang" ancam tias sambil tersenyum manis ke rendi.
Rendi tertawa sambil mengatakan
"iya pasti lah bebz, aku kan dah cape-cape ikut belanja masa ngga makan masakannya"  dengan muka masam sambil merajuk manja tias menjawab
" jadi  kerumah ntar cuman mau makan nih" rendi makin tertawa melihat tingkah tias
"ngga lah bebz pastinya lebih ingin ketemu kamu" rayu rendi
" ya udah aku pulang dulu,  kamu masak aja udah bebz yg enak awas kalau asin  ku kawinin ntar "canda rendi sambil tertawa,
Setelah itu rendipun pergi dan tias  masuk kedalam rumah
Setelah tias masuk kedalam rumah tias terkejut melihat  teman ibunya bicara ternyata itu adalah ayahnya, ayahnya baru pulang tugas di luar kota  yang kebetulan bekerja di perusahaan tambang dan harus pergi kerja dengan waktu cukup lama.
"ayah kapan datang" ucap tias senang sambil berpelukan dengan ayahnya.
" sebenarnya cukup lama,  ayah menunggumu pulang sekolah" gerutu ayahnya sambil tersenyum dan balas senyum dari tias
"maaf yah,  tias harus pergi kepasar dulu beli bahan masakan"  ucap tias
"wahh anak ayah  mulai suka masak nih" puji ayahnya
" iya dong jawab tias" dengan membanggakan diri kepada ayahnya
"itu kamu banyak  bawa bahan banyak tias,  kamu mau masak apa? ? "  tanya ibunya sambil menengok isi bawaan tias dari pasar
"gini bu hari ini aku mau undang rendi makan dirumah" jawab tias dengan wajah berseri-seri di hadapan ayah dan ibunya
"rendi apa itu pacar kamu tias yang biasa di ceritakan ibumu via telpon" ayahnya juga bertanya k tias dengan rasa kawatir, lalu ibu tias mendekati ayahnya.
" tias kamu bawa bahan masakan mu tadi ya terus ganti pakaian nnti ibu bantu masaknya " tias pun mematuhinya lalu ibu tias  mengajak ayah tias ngobrol
" hey apa aku salah mengatakan itu tadi " kata ayah bertanya pada ibu, dengan lembut ibu menjelaskan.
"tak apa yah, rendi itu anak yang baik ibu sering bertemu dengannya anaknya sopan" bujuk ibunya tias
"tapi bu menurut ayah tias nanti dulu mikirin pacaran,  pendidikan itu jauh lebih penting" sahut ayahnya, sambil menghela napas ibu mengatakan
"iya tapi tias sudah dewasa ayah, ya kita tidak bisa menahan atau melarang atas datangnya cinta, itu wajar" jawab ibu
" ya sudah ibu mau masak bantu tias dulu yah" sambil bergerak menuju dapur mereka,
Dan di dapur ternyata sudah ada tias yang lagi mempersiapkan masakan
"apa bu kata ayah tanya tias pada ibunya" dengan rasa penasaran
"ngga apa-apa ayah memang begitu orgnya, dia ngga bisa terima begitu saja keputusan org lain, dia mesti selidiki sendiri, tapi ibu yakin kan rendi anak baik pasti ayah mendukung hub kalian" nasehat ibu kepada tias.
Tias merasa cemas tapi dia yakin kalau cinta rendi tulus dengannya dan itu merupakan kekuatan kami ucap tias dalam hati.
Sambil memasak mereka antara ibu dan anak bercerita, tias selalu menanyakan ceritakan tentang ibunya sewaktu dulu masih pacaran dengan ayahnya, ibu tias menceritakan bagian yang menyenangkan masa-masa ibunya pacaran, sampai asiknya tak terasa menu masakan mereka sudah selesai dan tertata rapi di meja makan.
" tinggal menunggu rendi datang aku mau dandan dulu supaya tambah cantik"  kata tias dengan segera pergi kekamarnya untuk berdandan lagi.
Tak lama kemudian bell rumah mereka berbunyi
Teng....nong
Kebetulan ayah tias masih duduk di luar, dan segera membukakan pintu
"selamat siang om " sambut rendi sambil tersenyum dan mengulurkan tangan ke ayah tias
"iya selamat siang " sambut ayah tias sambil menjabat tangan rendi
" saya rendi om tiasnya ada "
" owh kamu rendi " tanya ulang ayah tias
"iya om" jawab rendi
"owh saya ayahnya tias, masuk dulu ada yang ingin aku bicarakan " kata ayah tias sambil mempersilahkan masuk dan duduk di kursi tamu
Ayah tias mengobrol dan bertanya tentang rendi serta keluarganya . Dari dapur ibu tias mendengar seperti ada teman ayah berbicara lalu mendekat dan ternyata rendi
"owh rendi kamu sudah datang.. Tunggu ya ibu panggilkan tias sekalian kita makan bareng "
Ibu pun pergi kekamar tias dan memanggil " tias itu rendi udah datang" tias pun langsung membukakan pintu kamarnya.
" iya mah "  dengan semangat tias menemui rendi
" maaf apa kamu lama menunggu " tanya tias
"ngga " kata rendi sambil tersenyum dan memberikan bunga mawar merah ke pada tias ,   tias bahagia sekali, lalu ayah tias  berbicara
" karna sudah berkumpul ayo kita ke meja makan" semuanya bersamaan menuju meja makan
Di meja makan mereka bercengkrama,
" tias habis lulus sekolah ini kamu mau kuliah dimana" tanya ayahnya,  tias terdiam dan bingung sebelumnya rendi tak ada mengajaknya untuk merid sehabis lulus smk ini
"tias tak tau yah" jawab tias
"tak tau apa nih,  bingung mau kuliah dimana atau bingung kuliah atau engga " goda ayahnya ke pada tias, sepertinya ayah tias sudah menyukai kepribadian rendi dan keluarganya
"ayah tak melarang jika kalian nantinya mau menikah, toh menurut ayah rendi lumayan mapan, ya kan ren  "  ayahnya menggoda rendi juga sambil tertawa lepas
"iya om" jawab rendi sambil tersenyum
"hus ayah.... " tegur ibu " jangan bikin tias malu,  tuh liat wajahnya merah kaya udang rebus "
"mana-mana wah benar" kata ayahnya sambil mentertawakan tias.
Serontak tias yang lagi melamun jadi salah tingkah di buat ayahnya
"ayah bikin malu aja"  sewot tias dengan wajah cemberut, semuanya tertawa  dan susana di dapur berubah jadi ramai.
Sehabis acara makan selesai rendi pamitan pulang dengan ayah,ibu tias dan tias mengantar rendi ke pintu keluar.
Tinggal dengan tias rendi belum pamitan. Pas diluar pintu
"bebz " kata rendi kepada tias dengan lembut  yg lagi menundukan kepalanya kebawah,  munkin malu menatap wajah rendi atas kejadian di meja makan tadi.
Lalu rendi mengangkat dagu tias untuk menatap wajahnya. Tias terdiam karna  melihat mata rendi berkaca-kaca
"apa yang di katakan ayah kamu tadi ada benarnya, aku ngga keberatan justru itu yang aku mau, jika kamu tak keberatan  "sambil memegang kedua tangan tias dan  merunduk seperti adegan pangeran melamar sang putri rendi mengatakan.
" TIAS MAU KAH KAU MENIKAH DENGANKU" ucapkan rendi dengan tulus,
Tias terdiam dia bingung tapi bahagia, ternyata rendi serius mencintainya sebenarnya  ucapan rendi tadi masih membuatnya terkejut sekaligus kagum, hingga lupa baginya untuk menjawab pertanyaan rendi dan Tiba-tiba cuaca sangat mendung berangin kencang perhatian tias teralihkan untuk menyuruh rendi lekas pulang.
" bebz hari mau hujan kamu harus cepat pulang aja dulu" gesak tias
"tapi kamu belum jawab pertanyaanku tadi" tanya rendi masih memegang tangan tias
" bebz ga romantis kalau aku jawab disini,  bagaimana kalau nanti malam kita diner" usul tias
"ok jawab rendi nanti malam aku jemput jam 8 malam ya " sambil pergi dan menaiki motornya dan pergi
Dan tias masuk kerumahnya dengan hati berbunga-bunga wajahnya terliat bahagia sekali ibu dan ayahnya heran melihat tingkah tias.
"hey tias ada apa" tanya ayahnya dengan rasa penasaran. Tias menjawab sambil tersenyum bahagia
"rahasia yah" dan pergi kekamarnya, ayah dan ibunya bingung lalu ibunya pergi menemui tias karna rasa penasaran
"tias ada apa nih ko senang bangat, emang ada apa " tanya ibunya sambil tersenyum melihat putrinya bahagia
"itu mah.. Rendi ngajak aku meried" kata tias sambil malu-malu bahagia
" owh ya.. Terus kamu jawab iya "  kata ibunya ikut bahagia sambil mendekat ke samping tias yang lagi duduk di ranjangnya
"belum aku jawab bu , nanti malam kami mau diner jadi nanti malam aku jawabnya"
"owh ya aku mau siapkan pakaian buat malam nanti apa ya"  sambil berdiri memeriksa lemarinya dan meminta ibunya membantunya buat memilihkan bajunya
Hingga malam pun tiba tias sudah berdandan cantik untuk menunggu rendi di ruang tamu.
Sudah satu jam tias menunggu sesekali dia coba untuk menelpon namun tak ada yang jawaban hingga Jam sudah menunjukan jam 9:32 malam namun rendi tak kunjung tiba. Tias mulai bosan sekaligus gelisah kenapa rendi lama tak menjemputnya bahkan di telpon pun no handphonenya tak aktif
"kenapa nih rendi tidak bisa di hubungin" gerutu tias kesal lalu dia coba menelpon kerumah rendi. Cukup lama menunggu ada yang mengangkat telpon rumah akhirnya di angkat
Tias : "hallo bisa bicara sama rendi ngga "
Pembantunya : " ini siapa ya "
Tias : " ini tias "
Pembantu : "owh non tias mas rendi kecelakaan non tadi orang rumah semua kerumah sakit  bayangkara non"
Mendengar itu tias langsung syok,  hp di tangannya langsung terlepas dan langsung berlari keluar rumah  sambil berteriak
"rendi-rendi "  mendengar tias histeri menangis ibu serta ayahnya tias kaget dan berlari mengejar tias yang mau keluar rumah mencari rendi
" ada apa na.." tanya ibu tias..
"rendi buuu" sambil menangis
"Iya kenapa rendi " tanya ibunya
"dia kecelakaan " tias terus menangis sejadi-jadinya
"ayo kita berangkat mencarinya rendi di rumah sakit mana " tanya ayahnya
" rumah sakit bayangkara"  jawab tias
Segera ayah tias membawa tias yang  lagi lemas karna syok menuju rumah sakit untuk bertemu rendi
Sesampai rumah sakit bayangkara  mereka langsung mencari kamar rawat rendi.
Dan menemukannya kamarnya ayah tias duluan menghampiri sanak kerabat rendi dan berbicara serius tak lama kemudian ayah tias mendekati tias  dan menyuruhnya masuk menemui rendi, sambil menangis tias mendekat pelan ke arah ranjang rawat rendi serasa tak percaya kalau itu adalah rendi.
Tias terus mendekat didepannya ada seorang ibu menangis di depan rendi sepertinya itu adalah ibunya.
Setelah tias dekat ibu rendi memegang tangan tias untuk lebih dekat lagi ke tempat ranjang rendi
" kamu tias " kata ibu rendi sambil menangis pilu tias diam kaku air matanya terus mengalir tak berhenti matanya fokus menatap wajah andi yang terbaring koma tak berdaya.
"rendi sekarat na" kata ibu tias sambil menangis sejadi-jadinya,
"rendi-rendi-rendi bangun " ucap tias sambil menangis keras  " rendi  kamu sudah janji dengan aku ren jangan tinggalin aku ren"
Tiba tiba tangan rendi bergerak dan dia mampu membuka matanya berlahan sesambil bergumam memanggil tias
"tias-tias " meski pelan tapi tias  cukup dengar dengan jelas, mendengar itu tias berteriak dokter-dokter
Lalu rendi memegang tangannya tias. Dan berbicara pelan
"tias aku mau menanyakan sesuatu kepadamu" suara rendi terdengar patah-patah
"menanyakan apa " ucap tias sambil memegang tangan rendi sambil tangan satunya membelai rambut rendi
"apa jawabanmu atas pertanyaanku kemaren" tanya rendi sambil menahan sakitnya di hadapan  tias yang menangis sepilu-pilunya
"iya ren,  aku mau menikah denganmu,  tapi kamu harus sembuh ren" jawab tias sambil menyemangati rendi.
Rendi menggelengkan kepalanya pelan seolah menyatakan dia tak akan sembuh.
"kenapa ren " tangis tias
Lalu rendi tersenyum  dan mengucapkan " love u tias "
Setelah mengucapkan itu keadaan rendi langsung berubah kritis, tias terus berteriak dokter-dokter
Dokter tiba dan mencoba menolong, namun tuhan berkehendak lain.
" maaf kami sudah berusaha dengan baik " ucap dokter pada sanak keluarga rendi beserta keluarga tias dan
Tangisan pun tak terbendung di antaranya.
Keesok harinya rendi di makamkan di pemakaman umum sepertinya acara sudah selesai namun tias masih tetap di sisi kuburan rendi sambil,  menghaburkan bunga di atasnya,  matanya terlihat bengkak dan hitam karna banyak menangis.
Ibu alm rendi mendekati tias, dan memberikan tias setangkai bunga mawar merah,
"ini bunga yang di bawa rendi pas di waktu kecelakaannya, sebelum koma dia menitipkan ini kepada ibu untuk di kasihkan kekamu"  dengan terdengar pilu ibu alm.rendi memberikan bunga itu dan sambil menangis tias mengambil bunga itu
"apapun itu ibu tau rendi sangat mencintaimu dan begitu juga denganmu,tapi ibu harap kamu dari sekarang belajarlah untuk melupakannya demi kebaikanmu"


                    "TAMAT"
Karya : guztyzeromaki
[Continue reading...]
 
Copyright © . Cerpenazza - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger