Tampilkan postingan dengan label cerita sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita sedih. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

blogcerpen - AKU RELA TERLUKA ASALKAN DIA BAHAGIA

Ardi adalah sahabat baik Ria. Tapi sesungguhnya Ardi sangat mencintai Ria. Ardi ingin mengungkapkan perasaan itu tapi dia selalu mengurungkan niatnya,dia tidak ingin merusak persahabatanya dengan Ria hanya karena masalah ini.

Ardi selalu bangun pagi-pagi, lalu dia selalu menelefon Ria untuk membangunkannya. Ini di lakukan Ardi setiap pagi. Dan Ria mengangkatnya dengan masih menahan kantuk. Ria adalah cewek manis,tinggi dan suka banget shopping.Dia juga cewek yang baik, temen-temennya suka banget berteman sama Ria.
“Hallo...” Sapa Ria di seberang dengan masih menahan kantuk.
“Hoee..ayo bangun udah pagi ni.” Teriak Ardi di telefon.
“Wah biasa aja donk teriaknya, kuping gue budek nich.” Jawab Ria kaget.
“Makannya cepetan bangun sana terus mandi..udah siang nich!” Tambah Ardi
“Iya,iya...bawel banget sih..” Jawab Ria.
Walaupun Ria masih mengantuk akhirnya dia bangun juga.Ria langsung menuju kamar mandi, setelah dia mandi dan sudah berpakaian dia turun dari kamarnya menuju dapur, dia kelaparan.
“Bik nggak ada makanan?” Tanya Ria kepada pembantu kesayangannya Bik Minah.
“Ada non,non tunggu aja di meja makan, sebentar lagi siap non.” Jawab Bik Minah.

Setelah menunggu beberapa saat,akhirnya makanan Ria datang juga.
“Ini non makanannya,makan yang banyak ya? Biar gemuk? Hehe.” Canda Bik Minah.
“Bibik bisa aja,nanti kalau aku gemuk,jadi nggak cantik lagi donk hehehe.” Jawab Ria dengan tersenyum.
Selesai makan Ria menuju kamarnya,dia bingung mau ngapain hari libur gini. Ria memutar musik supaya pikirannya tidak jenuh,tapi dia masih aja jenuh. Lalu dia kepikiran buat ngajak teman-temannya untuk pergi ke mall,buat sekedar makan,supaya dia nggak jenuh. Ria langsung mengambil Hpnya yang ada di atas meja dan langsung menelepon Ardi,Syifa, Clara dan Aji.

Setengah jam kemudian Ria sampai di Mall naik mobilnya yang baru di belikan ayahnya. Teman-temannya sudah sampai duluan dan menunggu Ria. Ria bergegas masuk ke dalam Mall, Ria clingukan mencari temanya, karena sibuk mencari teman-temannya,Ria tidak melihat kalau di depannya ada seorang cowok yang membawa minuman. Bruckkkk..........................
“Aduh mbak maaf, saya tidak melihat ada mbak di situ..maaf ya mbak? Kata cowok itu dengan rasa bersalah.
“Hemzz...nggak apa-apa maz,saya yang salah karena sibuk mencari teman saya,sampai saya nggak tau kalau ada mas di depan saya, maaf mas.”Jawab Ria sambil sibuk membersihkan bajunya yang terkena tumpahan minuman yang di bawa cowok tadi.
“Bukan mbak yang salah tapi saya,Saya benar-benar minta maaf mbak, sini mbak saya bersihkan.” Kata cowok itu lagi.
“Enggak mas terima kasih,nggak apa-apa saya yang salah.” Kali ini Ria menatap cowok yang di tabraknya.Dan... Degg.....“Gila ganteng banget ni cowok makan apaan sih kok bisa ganteng gini?” pikir Ria dalam hati. “Hemzz saya ganti ya mas minumannya?” Tambah Ria.
“Hemzz...nggak apa mbak saya bisa beli lagi nanti, ya udah mbak saya duluan. Sekali lagi maaf.”Kata cowok itu,dan berlalu. Tinggal Ria yang masih melongo melihat cowok itu.. setelah sadar dari lamunannya Ria bergabung dengan teman-temannya.
“Kemana aja sih Ya lama banget? Terus kenapa baju loe basah gitu?” Tanya Ardi dengan cemas,dan di tambah dengan teman-temannya.
“Sorry teman-teman tadi aku lagi da masalah dikit, tadi aku sibuk cari kalian ech aku nabrak cowok minumannya tumpah ke bajuku.” Jawab Ria.
“Ya syukur dech loe nggak apa-apa.” Tambah Clara.
“Hemzz tau nggak? Cowok yang aku tabrak tadi ganteng banget. Gila ganteng banget.” Kata Ria histeris.
“Memangnya siapa? kamu dah kenalan?” Tanya Ardi,dengan menahan rasa cemburu.
“Belum sih nggak sempat,ya semoga aja aku bisa ketemu lagi sama dia.”Jawab Ria.
***

Bel tanda usai pelajaran berbunyi. Ria masih sibuk membereskan buku-bukunya,sedangkan Ardi,Clara,Syifa dan Aji menunggu Ria di depan pintu.
“Cepetan donk Ya,katanya mau beli novel terbaru,keburu habis di sikat pembeli ni.” Teriak Syifa.
“Iya...bawel banget sih.” Jawab Ria dengan berteriak juga.

Selesai membereskan buku-bukunya,Ria langsung di tarik Ardi untuk buru-buru ketoko buku. Sesampainya di toko buku, Ria and friend langsung memasuki toko buku itu dan langsung menuju rak dimana buku yang mereka cari di pajangkan. Syifa,Clara dan Ria sibuk mencari novel-novel yang mereka suka,sedangkan Aji dan Ardi sibuk mencari komik.Ria menemukan novel yang ia suka dan ingin membelinya. Karena tidak menyadari kalau ada cowok di belakangnya yang juga ingin membelikan novel untuk sang adik. Saat Ria berbalik ingin menuju kasir untuk membayar novel yang di sukainya tiba-tiba......brakkk....Ria dan cowok itu bertabrakan lagi. Dan anehnya Ria malah seneng nabrak cowok itu, karena cowok yang di tabraknya sekarang adalah cowok yang di tabraknya waktu di malll,cowok yang membuat Ria nggak bisa tidur semalaman, dan cowok yang membuat Ria penasaran. Spontan temen-temen Ria menoleh semua,termasuk Ardi yang mulai merasakan hal yang tidak nyaman di hatinya.
“Aduh maaf-maaf.....” Kata Ria dengan membantu cowok itu mengambil bukunya yang jatuh karena di tabrak Ria.
“Ia nggak apa-apa kok. Santai aja.” Jawab cowok itu.
“Wah..kamu?? kita bertemu lagi.maaf ya udah nabrak kamu sampai dua kali?” Kata Ria.
“Och..iya kita bertemu lagi. Hemzz..gak apa-apa kok mungkin aku juga yang salah tadi. Ngomong-ngomong sama sapa kamu kesini?” Kata cowok itu.
“Sama teman-teman. Tu mereka lagi nglihatin kita. Oh iya nama kamu siapa kita belum sempat kenalan kan? Kenalin aku Ria.” Kata Ria memulai perkenalannya.
“Aku Revan. Oh iya sorry ya aku harus buru-buru soalnya di tungguin adhik aku di rumah, boleh minta no Hp kamu? Nanti aku hubungi kamu.” Jawab cowok itu.
Spontan Ria langsung shock sekaligus seneng cowok yang membuat dia nggak bisa tidur semalaman minta no Hpnya. Tanpa basa-basi lagi Ria langsung memberi tahunya. Cowok itu yang ternyata bernama Revan berterima kasih dan pergi sebelum pergi dia sudah berjanji akan menghubungi Ria nanti malam.
Di sisi lain Ardi merasa sangat cemburu melihat Ria dan Revan,tapi Ardi berusaha menyembunyikan perasaannya ini walau sebenarnya ingin sekali dia bertanya pada Ria,siapa cowok itu dan apa hubungannya dengan Ria. Ardi ingin bertanya sekarang,tapi dia rasa belum waktu yang tepat,karena suasana hatinya sekarang sedang kalut. Dia tidak ingin amarahnya meledak nanti di depan Ria. Ardi tidak mau itu terjadi. Dia tidak ingin menyakiti Ria.

Ardi,Syifa,Clara dan Aji pulang nebeng mobil Ria karena mereka tadi datang naik taksi mobil mereka di pakek nyokap-nyokap mereka semua. Di sepanjang perjalanan pulang Ardi sedikit beda,dia lebih banyak diam daripada bergurau dengan teman-temannya. Ria dan teman-temannya binggung melihat perubahan sikap Ardi yang tiba-tiba.
“Ar loe kenapa sih kok jadi pendiam gitu,aneh deh?” Tanya Syifa.
“Iya loe kenapa sih?Apa loe tadi lihat Ria kenalan ama cowok tadi loe jadi murung gini? Hahaha.” Ejek Aji.
“Jangan-jangan loe cemburu lihat Ria tadi?” Tambah Clara.
“Apa-apaan sih kalian, ya nggak lah Ria kan sahabat aku,aku seneng dia deket ama cowok.Kenapa harus cemburu?” Kata Ardi bohong.
“Iya bener kata Ardi,nggak mungkin lah Ardi cemburu.” Tambah Ria. Sedangkan Aji,Syifa dan Clara tersenyum dan saling berpandangan.
Malam harinya, di kamar,Ria menunggu telvon dari Revan. Setelah beberapa saat menunggu,akhirnya Revan telvon juga. Mereka berbasa-basi sesaat, dan mereka akirnya memutuskan untuk ketemuan keesokan harinya. Dan televon pun putus.
Hari ini Ria dan Revan bertemu di cafe ceria, mereka ngobrol dengan santai,dan beberapa saat saja mereka berdua sudah sangat akrab dan makin dekat.

Malam ini Ardi datang kerumah Ria Ardi nekat ingin mengungkapkan perasaanya kepada Ria,walaupun dia harus mengorbankan persahabatanya. Tok,tok.....terdengar pintu di ketok dan Ria langsung membukanya.
“Ardi....tumben kesini? Wah bawa apa nie? Masuk..!!” Kata Ria.
“Bawa makanan buat kamu pasti laper kan? Lagi bete di rumah jadi kesini aja” Jawab Ardi
“Hemzz donat coklat..enak nich kayaknya..aku makan ya?” Kata Ria senang mendapatkan donat coklat kesukaannya.
“Silahkan..!! Ya aku mau ngomong.. sesuatu.” Ardi memulai berbicara.
“Ngomong aja” Jawab Ria sambil mengunyah donatnya.
“Sebenernyaa........sebenernya aku......
“sebenernya apa Di?”
“Sebenernya aku....aku sa...sa...” Belum sempat Ardi ngomong HP Ria berbunyi dan itu dari Revan. Ardi hanya bisa pasrah..dan karena Ardi udah nggak tahan lagi mendengar Ria dan Revan telvon-telvonnan akhirnya Ardi pamit pulang.
***

Berkali-kali Ria dan Revan jalan bareng, dan suatu hari Revan menyatakan perasaannya kepada Ria di sebuah taman yang sudah di persiapkan Revan sejak awal.
“Ria...aku boleh ngomong sesuatu?” Kata Revan serius.
“Ya boleh lah,ngomong apa?” Jawab Ria serius juga.
“Sbenarnya aku...........aku......aku sayang kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Kata Revan.
“Apa.....? Kamu sayang aku? Beneran?” Jawab Ria dengan tidak percaya tapi di dalam hati dia seneng juga karena sebenarnya inilah yang di tunggu-tunggu Ria.
“Iya aku sayang sama kamu aku cinta kamu. Kamu mau kan jadi pacarku Ria,aku mohon.” Kata Revan dengan berlutut di depan Ria.
Tanpa basa-basi lagi Ria langsung mengangguk. Dan Revan langsung memeluk Ria.

Dirumah Ria langsung menelevon Ardi dan sobat-sobatnya. Dan yang pertama di televonya adalah Ardi.
“Hallo.” Sapa Ardi di seberang.
“Haloo Ardi sahabatku tersayang. Lagi ngapain nich?” Tanya Ria dengan sangat senang.
“Wah tumben kenapa nich? Kayaknya lagi seneng banget, habis dapat undian ya?” Tanya Ardi.
“Hahahaha....hemzzzz Ardi loe harus tau kenapa gue seneng banget hari ini. Langsung aja ya? Hemzz....Gue jadian sama Revan, gila gue seneng banget.” Kata Ria riang.

Degggg.........spontan jantung Ardi berdetak kenyang,dia shock mendengar perkataan Ria tadi. “Ria jadian sama Revan?” Nggak mungkin. Pikir Ardi.
“Hallo Ardi,loe masih di situ kan?” Tanya Ria yang mulai aneh karena Ardi diam saja.
“Ia Ya aku masih di sini kok. Hm selamat ya Ya moga langgeng aja. Aku ikut seneng.”Kata Ardi
“Makasih Ardi kamu emang sahabat aku yang paling baik. Bye Ardi sampai ketemu besok di sekolah ya?” Ria langsung menutup telvon. Tinggal Ardi yang shock mendengar Ria dan Revan jadian.
Ardi termenung dikamarnya di depan jendela dia bersedih karena cintanya kepada Ria bertepuk sebelah tangan. “Ria kenapa kamu nggak lihat aku di sini? Aku sangat mencintaimu, sangat, sangat mencintaimu kenapa kamu pilih Revan? Apa kurangnya aku Ya?” omel Ardi sendiri. Tak terasa air mata Ardi menetes, air mata kesedihan Ardi.

Setahun sudah berlalu Ria dan Ardi sudah lulus SMA dan mereka lama tidak bertemu karena mereka kuliah di fakultas yang berbeda. Ria masih dengan Revan dan Ardi masih sangat mencintai Ria.
5 tahun kemudian Ardi mendapat undangan pernikahan, dan di dalamnya tertulis nama Andria Karine dan Revan Andika betapa kagetnya Ardi membaca nama yang terpampang di undangan itu, Ria sahabatnya yang dicintainya menikah. Ardi bingung apakah dia harus senang ataupun bersedih. Ardi mendatangi pernikahan Ria dan Revan di lihatnya Ria sangat cantik dengan gaun pengantinnya, disampingnya Revan yang sangat tampan dengan jasnya.”Betapa sangat serasinya mereka.” Kata Ardi dalam hati. “Ria,semoga kamu bahagia selamanya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu karena aku menyayangimu. Aku rela terluka asalkan kamu bahagia, selamat menempuh hidup baru sahabatku.”
...TAMAT...
  Karya : Elfrida DR

[Continue reading...]

Sabtu, 28 Desember 2013

Blogcerpen - Bunga terakhir untuk Tias

Pada suatu pagi yang cerah di sekolah sedang ada acara kelulusan sekolah sma sederajatnya, para siswa sudah melewati masa-masa menegangkan saat pengumuman kelulusan dan pulang dengan hasilnya memuaskan seluruh siswanya lulus. di depan sekolah smk10  johor,sehabis pulang sekolah   rendi menjemput kekasihnya tias sepulang sekolah, rendi adalah anak dari pengusaha penjual bahan bangunan dia sudah lulus sekolah 5tahun sebelum tias, antara sekolah mereka hanya berjarak 20m setiap bertemu tias  rendi selalu bawakan bunga mawar untuk tias .
"hay bebz " sahut rendi sambil pegang setangkai bunga mawar untuk di kasihkan ke tias
Tias merasa senang karna setiap pulang sekolah selalu di jemput rendi dan dia romantis .
" makasih ya bebz.." sahut tias sambil naik kemotor rendi dan memasang helmnya
Di perjalanan mereka berbicara
" dah ngga kerasa hari ini adalah hari  kelulusanku ya bebz" ucap tias ke rendi
" bagaimana kalau kita rayakan di cafe tempat kita biasa bertemu bebz"  usul rendi 
Tias terdiam lalu  berpikir dia merasa biasa kalau harus merayakannya di cafe paporite mereka
" gini aja bebz kamu main aja kerumah aku. Aku bakalan masak enak buat kamu" seru tias dengan senang, rendi pun merasa cukup senang
" wah ide bagus bebz.. Aku setuju aja.." kata rendi lalu tias menepuk pundak rendi yang lagi bonceng dia
" tapi sebelumnya kamu temenin aku kepasar dulu ya, beli bahannya" ucap tias
"oke-oke jadi putar arah nih ngga jadi pulang gowes pasar" dengan semangat rendi memutar arah motornya dan mereka menuju pasarloak.
"oke sudah sampai, yang tugasnya beli kamu bebz aku bantu bawa keranjang nya aja ya "  tawar rendi
"iya - iya " jawab tias dan di pasar mereka asik berbelanja, tias sibuk memilah bahan makanan yang akan ia masak, rendi aga kerepotan karna kesana kemari bawa keranjang belanja tias.
" aduh bebz kesana kemari sebenarnya mau masak apa sih" rendi mulai mengeluh kepada tias
" sabar bebz. Aku lagi perlu satu bahan lagi buat masakan, pokonya nnty bakal bikin masakan spesial dari aku"  sambil sibuk berjalan mencari bahan tias mengatakannya, rendi masih penasaran hanya mengiya kan ucapan tias tadi.
Hampir satu jam mereka berbelanja dan sudah selesai
"ayo kita pulang" ajak tias
"yuk" sambil bwa kan barang tias rendi menuju motornya untuk pergi.
Sesampainya di rumah tias,
"bebz aku pulang dulu ngga enak kalau ngga ganti pakaian " sambil turun dari kendaraan tias menganggukan kepalanya.
"iya bebz, tapi nanti langsung kesini ya, awas kalau ya kalau ngga datang" ancam tias sambil tersenyum manis ke rendi.
Rendi tertawa sambil mengatakan
"iya pasti lah bebz, aku kan dah cape-cape ikut belanja masa ngga makan masakannya"  dengan muka masam sambil merajuk manja tias menjawab
" jadi  kerumah ntar cuman mau makan nih" rendi makin tertawa melihat tingkah tias
"ngga lah bebz pastinya lebih ingin ketemu kamu" rayu rendi
" ya udah aku pulang dulu,  kamu masak aja udah bebz yg enak awas kalau asin  ku kawinin ntar "canda rendi sambil tertawa,
Setelah itu rendipun pergi dan tias  masuk kedalam rumah
Setelah tias masuk kedalam rumah tias terkejut melihat  teman ibunya bicara ternyata itu adalah ayahnya, ayahnya baru pulang tugas di luar kota  yang kebetulan bekerja di perusahaan tambang dan harus pergi kerja dengan waktu cukup lama.
"ayah kapan datang" ucap tias senang sambil berpelukan dengan ayahnya.
" sebenarnya cukup lama,  ayah menunggumu pulang sekolah" gerutu ayahnya sambil tersenyum dan balas senyum dari tias
"maaf yah,  tias harus pergi kepasar dulu beli bahan masakan"  ucap tias
"wahh anak ayah  mulai suka masak nih" puji ayahnya
" iya dong jawab tias" dengan membanggakan diri kepada ayahnya
"itu kamu banyak  bawa bahan banyak tias,  kamu mau masak apa? ? "  tanya ibunya sambil menengok isi bawaan tias dari pasar
"gini bu hari ini aku mau undang rendi makan dirumah" jawab tias dengan wajah berseri-seri di hadapan ayah dan ibunya
"rendi apa itu pacar kamu tias yang biasa di ceritakan ibumu via telpon" ayahnya juga bertanya k tias dengan rasa kawatir, lalu ibu tias mendekati ayahnya.
" tias kamu bawa bahan masakan mu tadi ya terus ganti pakaian nnti ibu bantu masaknya " tias pun mematuhinya lalu ibu tias  mengajak ayah tias ngobrol
" hey apa aku salah mengatakan itu tadi " kata ayah bertanya pada ibu, dengan lembut ibu menjelaskan.
"tak apa yah, rendi itu anak yang baik ibu sering bertemu dengannya anaknya sopan" bujuk ibunya tias
"tapi bu menurut ayah tias nanti dulu mikirin pacaran,  pendidikan itu jauh lebih penting" sahut ayahnya, sambil menghela napas ibu mengatakan
"iya tapi tias sudah dewasa ayah, ya kita tidak bisa menahan atau melarang atas datangnya cinta, itu wajar" jawab ibu
" ya sudah ibu mau masak bantu tias dulu yah" sambil bergerak menuju dapur mereka,
Dan di dapur ternyata sudah ada tias yang lagi mempersiapkan masakan
"apa bu kata ayah tanya tias pada ibunya" dengan rasa penasaran
"ngga apa-apa ayah memang begitu orgnya, dia ngga bisa terima begitu saja keputusan org lain, dia mesti selidiki sendiri, tapi ibu yakin kan rendi anak baik pasti ayah mendukung hub kalian" nasehat ibu kepada tias.
Tias merasa cemas tapi dia yakin kalau cinta rendi tulus dengannya dan itu merupakan kekuatan kami ucap tias dalam hati.
Sambil memasak mereka antara ibu dan anak bercerita, tias selalu menanyakan ceritakan tentang ibunya sewaktu dulu masih pacaran dengan ayahnya, ibu tias menceritakan bagian yang menyenangkan masa-masa ibunya pacaran, sampai asiknya tak terasa menu masakan mereka sudah selesai dan tertata rapi di meja makan.
" tinggal menunggu rendi datang aku mau dandan dulu supaya tambah cantik"  kata tias dengan segera pergi kekamarnya untuk berdandan lagi.
Tak lama kemudian bell rumah mereka berbunyi
Teng....nong
Kebetulan ayah tias masih duduk di luar, dan segera membukakan pintu
"selamat siang om " sambut rendi sambil tersenyum dan mengulurkan tangan ke ayah tias
"iya selamat siang " sambut ayah tias sambil menjabat tangan rendi
" saya rendi om tiasnya ada "
" owh kamu rendi " tanya ulang ayah tias
"iya om" jawab rendi
"owh saya ayahnya tias, masuk dulu ada yang ingin aku bicarakan " kata ayah tias sambil mempersilahkan masuk dan duduk di kursi tamu
Ayah tias mengobrol dan bertanya tentang rendi serta keluarganya . Dari dapur ibu tias mendengar seperti ada teman ayah berbicara lalu mendekat dan ternyata rendi
"owh rendi kamu sudah datang.. Tunggu ya ibu panggilkan tias sekalian kita makan bareng "
Ibu pun pergi kekamar tias dan memanggil " tias itu rendi udah datang" tias pun langsung membukakan pintu kamarnya.
" iya mah "  dengan semangat tias menemui rendi
" maaf apa kamu lama menunggu " tanya tias
"ngga " kata rendi sambil tersenyum dan memberikan bunga mawar merah ke pada tias ,   tias bahagia sekali, lalu ayah tias  berbicara
" karna sudah berkumpul ayo kita ke meja makan" semuanya bersamaan menuju meja makan
Di meja makan mereka bercengkrama,
" tias habis lulus sekolah ini kamu mau kuliah dimana" tanya ayahnya,  tias terdiam dan bingung sebelumnya rendi tak ada mengajaknya untuk merid sehabis lulus smk ini
"tias tak tau yah" jawab tias
"tak tau apa nih,  bingung mau kuliah dimana atau bingung kuliah atau engga " goda ayahnya ke pada tias, sepertinya ayah tias sudah menyukai kepribadian rendi dan keluarganya
"ayah tak melarang jika kalian nantinya mau menikah, toh menurut ayah rendi lumayan mapan, ya kan ren  "  ayahnya menggoda rendi juga sambil tertawa lepas
"iya om" jawab rendi sambil tersenyum
"hus ayah.... " tegur ibu " jangan bikin tias malu,  tuh liat wajahnya merah kaya udang rebus "
"mana-mana wah benar" kata ayahnya sambil mentertawakan tias.
Serontak tias yang lagi melamun jadi salah tingkah di buat ayahnya
"ayah bikin malu aja"  sewot tias dengan wajah cemberut, semuanya tertawa  dan susana di dapur berubah jadi ramai.
Sehabis acara makan selesai rendi pamitan pulang dengan ayah,ibu tias dan tias mengantar rendi ke pintu keluar.
Tinggal dengan tias rendi belum pamitan. Pas diluar pintu
"bebz " kata rendi kepada tias dengan lembut  yg lagi menundukan kepalanya kebawah,  munkin malu menatap wajah rendi atas kejadian di meja makan tadi.
Lalu rendi mengangkat dagu tias untuk menatap wajahnya. Tias terdiam karna  melihat mata rendi berkaca-kaca
"apa yang di katakan ayah kamu tadi ada benarnya, aku ngga keberatan justru itu yang aku mau, jika kamu tak keberatan  "sambil memegang kedua tangan tias dan  merunduk seperti adegan pangeran melamar sang putri rendi mengatakan.
" TIAS MAU KAH KAU MENIKAH DENGANKU" ucapkan rendi dengan tulus,
Tias terdiam dia bingung tapi bahagia, ternyata rendi serius mencintainya sebenarnya  ucapan rendi tadi masih membuatnya terkejut sekaligus kagum, hingga lupa baginya untuk menjawab pertanyaan rendi dan Tiba-tiba cuaca sangat mendung berangin kencang perhatian tias teralihkan untuk menyuruh rendi lekas pulang.
" bebz hari mau hujan kamu harus cepat pulang aja dulu" gesak tias
"tapi kamu belum jawab pertanyaanku tadi" tanya rendi masih memegang tangan tias
" bebz ga romantis kalau aku jawab disini,  bagaimana kalau nanti malam kita diner" usul tias
"ok jawab rendi nanti malam aku jemput jam 8 malam ya " sambil pergi dan menaiki motornya dan pergi
Dan tias masuk kerumahnya dengan hati berbunga-bunga wajahnya terliat bahagia sekali ibu dan ayahnya heran melihat tingkah tias.
"hey tias ada apa" tanya ayahnya dengan rasa penasaran. Tias menjawab sambil tersenyum bahagia
"rahasia yah" dan pergi kekamarnya, ayah dan ibunya bingung lalu ibunya pergi menemui tias karna rasa penasaran
"tias ada apa nih ko senang bangat, emang ada apa " tanya ibunya sambil tersenyum melihat putrinya bahagia
"itu mah.. Rendi ngajak aku meried" kata tias sambil malu-malu bahagia
" owh ya.. Terus kamu jawab iya "  kata ibunya ikut bahagia sambil mendekat ke samping tias yang lagi duduk di ranjangnya
"belum aku jawab bu , nanti malam kami mau diner jadi nanti malam aku jawabnya"
"owh ya aku mau siapkan pakaian buat malam nanti apa ya"  sambil berdiri memeriksa lemarinya dan meminta ibunya membantunya buat memilihkan bajunya
Hingga malam pun tiba tias sudah berdandan cantik untuk menunggu rendi di ruang tamu.
Sudah satu jam tias menunggu sesekali dia coba untuk menelpon namun tak ada yang jawaban hingga Jam sudah menunjukan jam 9:32 malam namun rendi tak kunjung tiba. Tias mulai bosan sekaligus gelisah kenapa rendi lama tak menjemputnya bahkan di telpon pun no handphonenya tak aktif
"kenapa nih rendi tidak bisa di hubungin" gerutu tias kesal lalu dia coba menelpon kerumah rendi. Cukup lama menunggu ada yang mengangkat telpon rumah akhirnya di angkat
Tias : "hallo bisa bicara sama rendi ngga "
Pembantunya : " ini siapa ya "
Tias : " ini tias "
Pembantu : "owh non tias mas rendi kecelakaan non tadi orang rumah semua kerumah sakit  bayangkara non"
Mendengar itu tias langsung syok,  hp di tangannya langsung terlepas dan langsung berlari keluar rumah  sambil berteriak
"rendi-rendi "  mendengar tias histeri menangis ibu serta ayahnya tias kaget dan berlari mengejar tias yang mau keluar rumah mencari rendi
" ada apa na.." tanya ibu tias..
"rendi buuu" sambil menangis
"Iya kenapa rendi " tanya ibunya
"dia kecelakaan " tias terus menangis sejadi-jadinya
"ayo kita berangkat mencarinya rendi di rumah sakit mana " tanya ayahnya
" rumah sakit bayangkara"  jawab tias
Segera ayah tias membawa tias yang  lagi lemas karna syok menuju rumah sakit untuk bertemu rendi
Sesampai rumah sakit bayangkara  mereka langsung mencari kamar rawat rendi.
Dan menemukannya kamarnya ayah tias duluan menghampiri sanak kerabat rendi dan berbicara serius tak lama kemudian ayah tias mendekati tias  dan menyuruhnya masuk menemui rendi, sambil menangis tias mendekat pelan ke arah ranjang rawat rendi serasa tak percaya kalau itu adalah rendi.
Tias terus mendekat didepannya ada seorang ibu menangis di depan rendi sepertinya itu adalah ibunya.
Setelah tias dekat ibu rendi memegang tangan tias untuk lebih dekat lagi ke tempat ranjang rendi
" kamu tias " kata ibu rendi sambil menangis pilu tias diam kaku air matanya terus mengalir tak berhenti matanya fokus menatap wajah andi yang terbaring koma tak berdaya.
"rendi sekarat na" kata ibu tias sambil menangis sejadi-jadinya,
"rendi-rendi-rendi bangun " ucap tias sambil menangis keras  " rendi  kamu sudah janji dengan aku ren jangan tinggalin aku ren"
Tiba tiba tangan rendi bergerak dan dia mampu membuka matanya berlahan sesambil bergumam memanggil tias
"tias-tias " meski pelan tapi tias  cukup dengar dengan jelas, mendengar itu tias berteriak dokter-dokter
Lalu rendi memegang tangannya tias. Dan berbicara pelan
"tias aku mau menanyakan sesuatu kepadamu" suara rendi terdengar patah-patah
"menanyakan apa " ucap tias sambil memegang tangan rendi sambil tangan satunya membelai rambut rendi
"apa jawabanmu atas pertanyaanku kemaren" tanya rendi sambil menahan sakitnya di hadapan  tias yang menangis sepilu-pilunya
"iya ren,  aku mau menikah denganmu,  tapi kamu harus sembuh ren" jawab tias sambil menyemangati rendi.
Rendi menggelengkan kepalanya pelan seolah menyatakan dia tak akan sembuh.
"kenapa ren " tangis tias
Lalu rendi tersenyum  dan mengucapkan " love u tias "
Setelah mengucapkan itu keadaan rendi langsung berubah kritis, tias terus berteriak dokter-dokter
Dokter tiba dan mencoba menolong, namun tuhan berkehendak lain.
" maaf kami sudah berusaha dengan baik " ucap dokter pada sanak keluarga rendi beserta keluarga tias dan
Tangisan pun tak terbendung di antaranya.
Keesok harinya rendi di makamkan di pemakaman umum sepertinya acara sudah selesai namun tias masih tetap di sisi kuburan rendi sambil,  menghaburkan bunga di atasnya,  matanya terlihat bengkak dan hitam karna banyak menangis.
Ibu alm rendi mendekati tias, dan memberikan tias setangkai bunga mawar merah,
"ini bunga yang di bawa rendi pas di waktu kecelakaannya, sebelum koma dia menitipkan ini kepada ibu untuk di kasihkan kekamu"  dengan terdengar pilu ibu alm.rendi memberikan bunga itu dan sambil menangis tias mengambil bunga itu
"apapun itu ibu tau rendi sangat mencintaimu dan begitu juga denganmu,tapi ibu harap kamu dari sekarang belajarlah untuk melupakannya demi kebaikanmu"


                    "TAMAT"
Karya : guztyzeromaki
[Continue reading...]

Jumat, 27 Desember 2013

AKHIR CERITA CINTA

Berawal dari sebuah kekagumanku padamu, Raka. Aku mencintaimu dalam ketidakberdayaanku sebagai seorang wanita yang hanya kau anggap sebagai sahabat, tak lebih. Pagi itu, aku bertemu denganmu yang tengah asyik membersihkan papan yang tak lain merupakan salah satu penyalur ilmu.
“Rajin sekali..” lirihku

Aku tak pernah berani menyapamu walau sebenarnya aku sangat ingin untuk itu. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku benar-benar mengagumimu. Cowok jenius VIII-D, itulah sebutan anak-anak kelas untukmu. Raka, kamu ahli Matematika dan IPA, sedangkan aku? Aku hanya seorang makhluk pecinta sastra dan pembenci akan materi penuh angka.
“Siapa yang ingin menyelesaikannya?” tanya Bu Frida pagi itu.
“Saya, Bu!” ujarmu.
Lihatlah, berpasang-pasang mata menatapmu yang dengan santainya berjalan menuju papan tulis. Kau menuliskannya dengan beberapa kali menatap sebuah buku ditangan kirimu. Dan hebat, kau mendapat nilai sempurna dalam mengerjakan soal serumit itu.
Hari-hari terus berlanjut dan akupun tetap kokoh dengan perasaanku padamu. Setiap kali aku melihatmu, aku tak sanggup menahan desiran-desiran itu dihatiku. Kini, ulangan semester pertama telah usai dan saatnya untuk menantikan detik-detik pembagian hasil prestasi siswa.
“Kelas VIII-D, kita mulai dari juara pertama.... Raka Dwitama!”
Aku sudah menyangka bahwa yang akan meraih kemenangan itu adalah dirimu. Dan aku? Tentu saja tidak bisa.
“Juara kedua.... Ranasya Anggraini!”
Kali ini, aku sama sekali tak menyangka. Aku yang ‘pas-pasan’ ini mendapat peringkat kedua dan akan berdiri disampingmu Raka? Aku malu, sangat malu hingga aku tak lagi fokus mendengarkan siapa seseorang yang akan berdiri disampingku nanti.

Degg..degg...
Aku merasakan jantungku bekerja keras hingga menimbulkan ledakan-ledakan aneh untukku. Aku terus merasakannya walau prosesi pemberian hadiah itu telah usai.
“Wah Rana hebat deh, aku juga pengen masuk tiga besar!” ucap Dara, sahabat ku.
“Ah kamu Da, aku juga nggak nyangka kok. Belum lagi bisa berdiri disamping Raka, aku deg-degan banget tahu nggak.” Balasku dengan diselingi curhat.

Dia sahabatku, tentu saja ia mengetahui bagaimana perasaanku terhadap Raka. Aku pun mengetahui hal yang sama, ia menyukai cowok tinggi yang duduk berseberangan dengan ku. Cowok itu Dafi, cowok berkuit hitam manis, berambut lurus dan bertubuh tinggi itulah yang menarik perhatiannya.
“Ra, Dafi peringkat berapa ya?” tanya Dara padaku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, sebuah suara yang tak asing bagiku menyapa.
“Rana, selamat ya.” Ujarmu.
Ah Raka, kamu membuatku sangat malu.
“Eh Raka, ee..makasih. Kamu juga, selamat ya!” balasku gugup.

Waktu terus berputar seiring dengan perkembangan hari, berkembang pulalah kedekatan kita. Sejak kuberanikan diri untuk menyapamu lewat ‘pesan singkat’ dengan alas an menanyakan tugas kelompokku bersamamu, hubungan kita semakin dekat. Awalnya, kukira kau menyukai ku, bahkan aku berpikir kamu akan meminta hubungan lebih dari sebatas teman. Memang iya, tapi hanya sebatas sahabat. Tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang lain, jika mereka dekat dengan seorang lelaki maka kelanjutannya adalah ‘pacaran’, hal yang belum pernah ku lakukan.
“Rana, tugas matematikamu sudah selesai belum?” tanyamu pagi itu.
“Seperti biasa Ka, bolong-bolong!” jawabku dengan wajah cemberut.
Dengan kebaikan hatimu, kamu mengambil sebuah buku bersampul biru dan memberikannya padaku.
“Thanks Ka, kamu baik banget.” Ucapku dengan tersenyum gembira.

Kitapun terus sejalan hingga akhirnya menempuh jenjang yang lebih tinggi, kelas IX. Tapi sayang, aku terpisah dengan banyak teman kesayanganku. Termasuk kamu dan Dara, begitu pula dengan Bu Faizah, guru favorit kita. Ramainya suasana kelas tetaplah membuatku merasa sepi disini, belum lagi aku tengah duduk bersama dengan seorang perempuan yang juga menyukaimu. Maria, dia juga menyukaimu Raka. Yang membedakanku dengannya sangat banyak, ia memiliki banyak kelebihan dariku. Postur tubuhnya lebih tinggi, kulitnya putih bersih, penampilannya diluar batas anggun, belum lagi ia merupakan salah satu vokalis ‘grup’ music sekolah. Sedangkan aku? Sangat jauh dibawah darinya.
“Rana, keperpustakaan bareng yuk!” ujarmu memanggilku.
“Ria, aku keperpus dulu ya. Mau ikut?” tanyaku sok akrab.
“Nggak Ra, nanti aku ganggu kalian belajar lagi.” Balasnya dengan wajah yang kurasa adalah milik seorang pencemburu.
Maafkan aku ya, Maria.
Selama diperjalanan menuju perpustakaan, kamu terus menceritakan banyak hal-hal lucu tentang kelasmu.
“Maklum, IX-C Ra, jadi anaknya gitu-gitu. Lucu!” ujarmu disela-sela tawa kecilku.

Saat kita melewati ruang guru, Bu Faizah memanggilmu.
“Raka, nanti siang temui Ibu diruang guru ya.” Pintanya.
“Baik Bu.” Balasmu semangat.
Setibanya diperpustakaan, seorang Ibu penjaga ruang membaca itu menyapaku.
“Rana, tumben jarang kesini.”
“Iya Bu, banyak tugas dikelas. Belum lagi, minggu depan sudah les.”

Setelah melakukan obrolan ringan, akupun segera menghampirimu yang telah duduk mematung dikursi favorit kita.
“Hei Ka, lagi ngarang puisi ya?” tebakku.
Sejak aku menjadi sahabatmu, kamu menjadi seseorang yang cukup terbuka. Aku pun mengetahui hobimu yang sama denganku kala itu, mengarang puisi.
“Iya, nih buat kamu. Bacanya dirumah aja ya Ra!” sahutmu dengan memberikan beberapa lembar kertas padaku.
“Oke bos!” ujarku dengan menempatkan diri disampingmu.
Sepulang dari sekolah, dengan cekatan kuraih beberapa lembar kertas yang semula berada di Lks Matematika itu.

For : Ranasya Anggraini
Mentari
Kau annggun dalam setiap lukisan cahaya
Kau surga bumi nan menyejukkan kalbuku
Kau penerang dalam gelap malamku
Mentari
Telah kutemukan dirimu dibumiku
Dan engkaulah itu.....
Tertanda
Raka Dwitama

Jika ini mimpi, kuharap takkan ada yang membangunkanku untuk meninggalkan kata-kata indah ini. Surat cintakah ini? Raka membuat surat cinta untukku?
Hari hari terus berlanjut, diperjalanan itulah Raka terus mengirimiku bait-bait indah itu. Oh Tuhan, aku tak ingin mematikan hari-hari itu. Namun tanpa sepengetahuanku, Raka menjalani hubungan ‘tersembunyi’ dengan Syela. Lihat saja, ia bahkan tak membiarkan Syela ditembus sang surya saat matahari yang terik memasuki area bimbel hari itu. Dan akhirnya, aku mengetahuinya melalui pembawa gossip terhangat sekolah yang bernamakan Elisa.
“Wah selamat ya Ka, kalian serasi ko.” Tulisku pada Blackberry messagger.
“Aku hanya ingin membantunya Ra. Syela selalu dikejar-kejar temanku yang notabennya adalah mantan kekasihnya. Kebetulan, rumah kami berdekatan dan tentu saja, ia segan mendekati Syela kembali setelah tahu bahwa kami berpacaran.” Balasnya.
~Oh, jadi itu alasannya. Tapi, benarkah demikian Ka? Entah mengapa, aku sedikit meragukanmu.~
Rasanya, aku hancur dan sangat menyedihkan. Aku baru mengalami derita cinta kepada sahabat yang mesti selalu terpendam dihatiku.

Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Raka, dia sibuk dengan kegiatan bersama Syela. Kamu jahat Ka! Lantas, untuk apa surat-surat itu? Aku sakit karenamu!
“Rana..” panggilmu.
“Ada apa?” jawabku datar.
“Kamu marah?”
“Tidak, aku hanya tidak ingin mengganggumu dengan Syela. Nanti dia cemburu lagi sama sahabatmu ini!”
“Ish kamu Ra, itu hanya hubungan palsu.”
“Be,,benarkah”
“Iya, aku mencintaimu.”
“Ra..ka,, kamu ini, becandanya keterlaluan deh!”
“Beneran, itu Cuma hubungan palsu ko. Lagian, Syela sudah mendapat paca baru. Jadi, peranku sebagai pacar palsunya udah clear. So, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
“Ha? Kamu nggak lagi bercanda kan Ka?”
“Nggak. Jawab dong Ra, mau nggak!”
“Emm, aku minta waktu deh.”
“Berapa lama? 1 second, 2 minutes, 3 hours, or 1 day?”
“Hehe, 1 day1”
“Ok.”

Jika memang ini benar-benar bukan mimpi, ku mohon panjangkan umurku untuk besok dan hari-hari selannjutnya. Aku merasa menyesal karena telah meminta waktu untuk menjawabnya, dan berandai-andaipun telah menjadi pilihan.
“Raka, aku mau ko jadi pacar kamu.” Ujarku disela makan siang kita.
“Sahabat jadi cinta nih?” balasmu dengan tersenyum manis padaku.

Akupun mengangguk.
Kita telah sepakat untuk hanya melakukan hubungan secara sembunyi-sembunyi. Itulah keinginanku dan keinginanmu. Kita adalah pribadi yang tak menyukai keramaian, kita merupakan pribadi yang menyukai ketenangan. Itulah yang kau ungkapkan diwaktu itu.
Hari berlalu menjadi minggu dan bulan, dua bulan sudah kita menjalani hubungan tersembunyi dibalik persahabatan ini. Tapi, teman-temanku mulai mempertanyakan kejelasan statusku dengan dirimu. Kuakui, aku bukanlah penyimpan rahasia yang setia. Beberapa sahabat karibku mengetahuinya, seperti Dara, Vivi, Nifa, dan Nina. Mereka menanyakan kejelasan hubunganku denganmu, Raka. Sebab, kedekatanmu dengan beberapa orang perempuan membuat mereka curiga. Mungkin, itulah hati seorang sahabat yang teramat bersimpati pada saudara sehatinya. Hal itulah yang membuatku meragukanmu, hingga akhirnya peistiwa itu terjadi. Peristiwa yang kurasa lucu, aku tak menegurmu namun kamu tak marah padaku. Ingatkah dengan apa yang kau katakan?
“Ra (sayang), kalo ngambek tambah imut loh..”
“Ih Raka...”

Kita baikkan dan harmonis kembali, walau terkadang keraguan itu kembali hadir dihatiku. Mengapa selalu aku yang sering memulai, bukan dirimu. Kamu jarang mengirim pesan walau hanya untuk menanyakan sudahkan aku makan? Raka, aku meragukanmu lagi.
Perlahan-lahan, ujian itu telah tiba didepan mata, ujian yang menakutkan dan mengintai kelulusan.
“Ra, semangat ya!” ujarmu yang kala itu duduk bersebelahan denganku.
“Ok, semangat juga ya Ka!” balasku dengan tersenyum simpul padamu.
Waktupun berlalu, ujian telah selesai dan mengharuskan kita untuk menunggu. Dan saat ini, aku berdiri disampingmu dengn harap-harap cemas. Aku yakin, kamu memang bisa mempertahankan juara kelasmu, sayang. Sedangkan aku? Entahlah, aku ragu.
“LULUS”

Lima kata itulah yang membuatku hampir berjingkrak jika aku tidak mengingatmu yang berada disampingku. Akan sangat memalukan bukan jika aku berjingkrak-jingkrak didepanmu? Tapi, intaian perpisahan tengah menghantuiku. Aku diharuskan untuk mengikuti perpindahan kerja orang tuaku ke Banjarmasin, sedangkan dirimu akan tetap meneruskan SMK pilihanmu di Surabaya. Tapi lihatlah, hari ini adalah hari perpisahan kita. Dihari itu, aku memakai kebaya berwarna coklat. Sedangkan kamu terlihat keren dengan kemeja putih dan celana hitammu. Karena tempat duduk itu diatur berdasarkan nomor urut peserta ujian, aku dan kamu berdampingan. Ingatlah, disaat teman-teman sekolah mengatai kita. Mereka tersenyum-senyum melihat kejadian ini. Dimana sepasang ‘kekasih’ mendapat keberuntungan oleh sebuah kebetulan. Namun, hal berat telah menantiku untuk mengatakannya padamu.
“Raka, besok lusa aku akan pergi ke Banjarmasin. Aku akan melanjutkan sekolahku disana, e... bagaimana dengan hubungan kita?”
“Kita long distance!”
“Yakin?”
“Kamu meragukanku atau kamu yang tidak mau?”
“Bukan begitu,, aku mau ko.”
Itulah pertemuan terakhirku denganmu, karena kesibuknmu dalam mengurus pendaftaranlah yang menyebabkan hari terakhir ku di Surabaya tak berjalan dengan baik. Bahkan, sangat tidak baik bagiku. Raka, untukmu aku menangis meninggalkan kota kelahiranku ini. Untukmu dan beberapa sanak saudaraku disini, serta untuk beberapa sahabat yang telah kuanggap saudara sehatiku. Aku menangis, Raka. Tidakkah kamu ingin hadir disini?, seperti beberapa bulan yang lalu kau hapuskan air mataku.

Satu bulan, dua bulan, hubungan kita tetap harmonis seperti dulu. Namun, dibulan ketiga kamu mulai berubah. Perhatianmu berkurang, sms mu pun jarang dating, apalagi telepon, kamu bahkan tidak melakukannya. Raka, tidak pentingkah aku dihatimu? Untungnya, kesibukanku dijejaring social cukup mampu membuatku ‘tak’ resah dengan keadaan kita. Aku mulai rajin membaca beberapa kata mutiara dan artikel berlafadzkan islam, agama terindah yang pernah ku kenal. Hingga disuatu hari, aku membacanya.
“PACARAN ITU BOLEH, TAPI......”
1) Tidak ada pegangan tangan.
2) Tidak ada waktu berduaan.
3) Tidak ada status hubungan.
4) Tidak ada kata mesra bergelantungan.
5) Dan yang utama, harus setelah NIKAH.
“ It’s not shame to be a Jomblo,
Be proud.... be a Josh
~~ Jomblo Sampai Halal ~~

Aku tertohok, sangat tertohok dengan apa yang baru saja kuperoleh melalui android phone-ku. Jujur saja, aku merasa hina akan diriku, aku munafik dihadapan Tuhanku. Entah sudah berapa banyak butiran dosa yang telah ku buat. Haruskah aku memutuskan hubungan ini? Hubungan yang telah kujalin hampir 365 hari bersama Raka, sahabat sekaligus kekasihku. Baiklah, aku akan menunggu hari ke-365 yang akan berlangsung tiga hari kedepan. Lebih dari itu, aku tidak ingin terus mengganggu Raka. Ia telah menjadi ketua dibergai organisasi, iapun menjadi salah satu anggota Osis.
“Ra, kita putus!” tulismu melalui pesan singkat.

Aku menangis, padahal inilah yang aku inginkan. Raka, aku belum memiliki kekuatan untuk ini. Ku mohon, beri aku sedikit ketabahan untuk menjawabmu.
“Iya.” Tulisku.
“Tapi, kita tetap sahabat ya Ra. Aku nggak mau kehilangan sahabat baik sepertimu.” Balasmu lagi.
“^_^” hanya itu yang dapat kutuliskan padamu.

Beberapa bulan telah berlalu, aku hanya mendapat beberapa pesan dan kabar darimu. Lambat laun, kita tak pernah saling mengabari. Dan hari ini, aku mendapat status hubungan barumu dijejaring social facebook.
“Berpacaran dengan Dewi Ramadhani”
Itulah yang kudapatkan distatus hubungan facebook mu. Untungnya, aku telah bergabung dengan beberapa komunitas yang membuatku sedikit melupakanmu. Disanalah kutemukan berbagai hal baru yang tak pernah kupelajari.

Akhir-akhir ini, kamu mulai menghubungiku kembali dengan beberapa kalimat motivasimu. Kuakui, kamu telah mampu mewujudkan cita-cita mudamu. Gelar ketua Osis telah kau dapatkan dengan mudah. Dan lengkaplah sudah ketenaranmu, hingga kembali muncullah desiran-desiran itu. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri dibumi, agar aku tak lagi berjumpa denganmu walaupun hanya sebuah ketidaksengajaan. Ya, kita bertemu disebuah jalan raya. Tatapan mata kita bertemu, hingga akhirnya senyumku terulur untukmu.
“Senyum yang kurindukan!”
“Ah tidak, ini tidak boleh. Astagfirullahh...”

Hari demi hari terus berlalu, aku dan kamu semakin dewasa menapaki samudera lautan yang penuh dengan ombak ini. Kita telah bermetamorfosis menjadi mahasiswa. Aku kembali melanjutkan kuliahku di Surabaya, pelajaran bahasa arablah pilihanku. Dua tahun tak bertemu membuatku merasa malu saat bertemu denganmu. Kamu terlihat dewasa dengan kemeja batik berlengan pendek dan celana jeansmu, sedangkan aku tampak berbeda dengan rok panjang, baju longgar dan jilbab besarku.
“Wah, kamu jauh berbeda ya Ra. Semakin dewasa!” pujimu.
“Kamu juga berubah kali, tambah dewasa!” balasku disela-sela menuruni tangga bersamamu.

Lambat laun, kita mulai akrab kembali. berbagai macam pesan kau kirimkan kembali padaku. Namun maaf, permintaanmu tak dapat kuterima dengan persetujuan. Karena kini, aku harus menjaga iffah dan harga diriku sebagai seorang muslimah.
“Maaf Ka, aku tidak bisa untuk mengulangnya kembali. Aku, aku, aku sudah dikhitbah.” Jawabku yang kali itu mengejutkan wajahmu.
“Dikhitbah? Siapa?” tanyamu.
“Tunggu saja undanganku!” sahutku dengan segera berpamitan padamu.
Lihatlah, aku ingin menangis karenamu.

Senin, 12 Juli 2020
Raka, inilah akhir perjalanan cintaku yang tak berujung bersamamu. Melainkan dengan orang lain yang hadirnya lebih jauh terlambat dari kedatanganmu dihatiku. Seorang ikhwan yang merupakan anggota aktif di Lembaga dakwah kampusku, yang akupun turut aktif didalamnya. Hidup ini adalah piihan, dan itulah pilihanku. Farid Arrasyidi Muhammad, kaulah jawaban atas semua munajat dan sujud panjangku. Bismillahh.....

The End

Karya : Hanida Ulfah
[Continue reading...]

WEDDING DRESS

Pagi itu mentari bersinar cerah, tak sedikitpun ia berhenti memancarkan cahaya.

Aku duduk termenung sendiri pagi itu. Pandanganku memburu tajam pada sebuah cincin pernikahan yang kupegang.

Tak berapa lama aku dikagetkan dengan kedatangan seseorang.
"Radit, sedang apa?" ia menepuk pundakku lantas duduk tepat disampingku dan menyandarkan kepalanya dibahuku.
"Ahh, Lintang. Kau membuatku kaget."
"Kau sedang merenung?"
"Ah tidak, mana bisa aku merenung melihatmu yang segar seperti ini."
"Kita keluar yuk Dit, makan gitu atau kalau enggak kita jalan jalan."
"Ga bisa lintang, kamu kan ga boleh keluar."
"Yah Radit, ya udah kalau gitu aku telepon Andre aja suruh nemenin dia. Lintang mengeluarkan handphone dari sakunya.
"Ga boleh juga Lintang. Kamu ga boleh ketemu sama Andre." Kuambil hanpdhone Lintang dan kugeletakkan di meja sebelahku.
"Haishh, Radit ga asik."
"Maaf, kalau aku buat kamu marah." Kupandangi dalam - dalam wajah Lintang. Wajah manisnya tak bisa disembunyikan sekalipun dia marah. Mata indahnya tetap sayu meskipun dia sedang cemberut.
"Kamu jelek kalau marah."
"Aku tidak marah."
"Lalu?"
"Aku cantik!" sambil mengarahkan wajah lembutnya dekat dengan wajahku, sangat dekat. Kita berpandangan cukup lama dan hanya kulayangkan sebuah ciuman di keningnya.
"Iya cantik, udah jangan marah lagi.oke?"ucapku tersenyum padanya dan beranjak membuatkannya minum.
"Radit, lagu apa yang akan kamu nyanyikan untukku minggu depan?"
"Aku belum tahu."
"Kenapa belum tahu? seharusnya kamu sudah menyiapkannya untukku."
"Tenang saja, akan ku berikan lagu paling baik untukmu."
"Janji?"
"Tentu."
"Oke, aku tunggu lagu darimu sampai acaranya jelek karena lagumu awas ya."
"Tidak akan pernah terjadi Lintang."
"Kalau begitu aku pulang ya. Daaaa Radit." Dia berlari ke arahku dan memelukku.
"Kok pulang, minumannya?"
"Aku ingin beristirahat. Sampai bertemu besok."
Lintang adalah sosok gadis yang hebat. Dia mampu membuat pelangi saat hujan turun dihidupku

Ia bisa membuatku merasa begitu tenang saat disampingnya, dan Ia juga bisa membuat nasi goreng yang rasanya mirip dengan masakan Ibuku. Lintang, dia sederhana, penuh cinta dan selalu bisa membuat orang bahagia termasuk aku.

Kulihat piano yang terletak disudut kamarku, setelah cukup lama ku buka catatan lagu yang sudah banyak kunyanyikan untuk Lintang, dan sekarang aku tengah menggarap satu lagu lagi untuknya.

Kududuk didepan piano dan hanya diam. Sesekali kutenggelamkan wajah pada kedua tanganku, yang terlintas malah ceritaku dengan Lintang. Mulai dari kita pertama bertmeu hingga hari ini, dan akhirnya aku tahu lagu yang ingin ku nyanyikan untuknya "wedding dress".

Seminggu berlalu,
Pagi ini aku terbangun karena teleponku berbunyi dan ternyata itu sms dari Lintang.
"Jangan lupa, ini hari penting."

Segera kubergegas siap- siap. Selesai mandi kuambil kemeja putih yang baru kubeli beberapa waktu yang lalu ditemani Lintang. Namun langkahku terhenti mengamati cincin yang bersembunyi dibalik wadahnya. Kupakai kemeja putih itu dan rompi warna hitam beserta dasi yang sesuai. Begitu sudah siap ku ambil buku catatan lagu yang hendak kunyanyikan untuk Lintang.

Kuayuhkan langkahku, tak lupa cincin itu kutaruh disaku celanaku. Gugup rasanya. Langkah ini menjadi gontai. Sampai akhirnya aku sampai didepan gedung.
"Hari ini harus sempurna!" kataku dalam hati. Orang orang beserta teman temanku dan juga teman Lintang sudah berada disana. Mereka mulai menyalamiku, dan aku membalasnya dengan senyum hangat. Sambil berlalu ku masuki gedung itu, aku mencari dimana Lintang. Sampai ke bagian dalam gedung kulihat Lintang sangat anggun dengan baju pengantinnya
"Kamu cantik sekali." Pujiku kepada Lintang sambil merapikan rambutnya.
"Kamu juga tampan hari ini Radit. Senang sekali melihatmu." Lintang merapikan kerah bajuku
"Aku sangat gugup Radit."
"Sini..!" Pintaku pada Lintang yang kemudian memelukku, akupun balas memeluknya. Rasanya ingin waktu berhenti disini saja, jangan berjalan lagi. Biarkan begini saja. Aku dan Lintang.
"Lintang, Radit." suara yang tak asing membuyarkan lamunanku dalam pelukan Lintang
"Andre. Seru lintang yang kemudian berlari kearahnya."
"Sudah siap?"
"Tentu."
"Baik aku tunggu ya. Radit, terimakasih ya sudah datang."
"Iya, aku keluar dulu ya. Menyiapkan performku untuk kalian berdua."

Andre. Dia adalah sahabatku yang menyukai Lintang, dan Lintang balas menyukainya. Dan hari ini adalah hari penting untuk mereka. Aku berharap hari ini aku yang berada diposisi Andre, sayangnya Andre lebih dulu melamar gadis impianku, sehingga cincin ini hanya bisa kusimpan tanpa pernah Lintang ketahui.

Pesta pernikahan Andre & Lintang dimulai, ada yang hilang rasanya melihat merka berdua dihadapkan dengan penghulu, ingin rasanya beranjak dari tempat ini, namun aku ingat pesan Lintang bahwa aku tak akan membuat acaranya jelek karenaku.
"Sah... sah...sah." terdengar tamu undangan mengucapkannya. Betapa aku ingin menangis, betapa aku ingin berteriak sekuat tenaga, tapi hanya bisa kutahan karena Lintang memnitaku bernyanyi.

Kunyanyikan lagu wedding dress milik Taeyang, aku tak peduli lagu itu terlihat sedih atau bagaimana. Hanya lewat lagu itu kuungkapkan semua.
"I can see you in your wedding dress." begitu sampai pada lirik lagu itu aku hampir meneteskan airmata, namun dapat kutahan.

Cause you should be my lady…
Now that we are apart now we’ll show how I can’t reason…
Never felt so strong like to lead us to a happy just never endless…
They just know that we belong to each other…
Never are we going to begone…
I can see you in your wedding dress

Setelah selesai kualunkan lagu itu, kugeletakkan cincin yang kubawa dan aku beranjak pergi meninggalkan pesta pernikahan mereka. Sejak saat itu aku menghilang dari kehidupan mereka. Melepaskan Lintangku kepada sahabatku, membawa luka dan kenanganku pada Lintang dan kumulai hidup baruku tanpa Lintangku.
Nama : Niken Sulistiyani
Umur : 21 tahun
Pekerjaan : Customer Service at www.broadcastindo.com
Facebook : Nicken Sulistya
Twitter : @nikensulistya1

[Continue reading...]
 
Copyright © . Cerpenazza - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger