Tampilkan postingan dengan label cerita seru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita seru. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2013

AKHIR CERITA CINTA

Berawal dari sebuah kekagumanku padamu, Raka. Aku mencintaimu dalam ketidakberdayaanku sebagai seorang wanita yang hanya kau anggap sebagai sahabat, tak lebih. Pagi itu, aku bertemu denganmu yang tengah asyik membersihkan papan yang tak lain merupakan salah satu penyalur ilmu.
“Rajin sekali..” lirihku

Aku tak pernah berani menyapamu walau sebenarnya aku sangat ingin untuk itu. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku benar-benar mengagumimu. Cowok jenius VIII-D, itulah sebutan anak-anak kelas untukmu. Raka, kamu ahli Matematika dan IPA, sedangkan aku? Aku hanya seorang makhluk pecinta sastra dan pembenci akan materi penuh angka.
“Siapa yang ingin menyelesaikannya?” tanya Bu Frida pagi itu.
“Saya, Bu!” ujarmu.
Lihatlah, berpasang-pasang mata menatapmu yang dengan santainya berjalan menuju papan tulis. Kau menuliskannya dengan beberapa kali menatap sebuah buku ditangan kirimu. Dan hebat, kau mendapat nilai sempurna dalam mengerjakan soal serumit itu.
Hari-hari terus berlanjut dan akupun tetap kokoh dengan perasaanku padamu. Setiap kali aku melihatmu, aku tak sanggup menahan desiran-desiran itu dihatiku. Kini, ulangan semester pertama telah usai dan saatnya untuk menantikan detik-detik pembagian hasil prestasi siswa.
“Kelas VIII-D, kita mulai dari juara pertama.... Raka Dwitama!”
Aku sudah menyangka bahwa yang akan meraih kemenangan itu adalah dirimu. Dan aku? Tentu saja tidak bisa.
“Juara kedua.... Ranasya Anggraini!”
Kali ini, aku sama sekali tak menyangka. Aku yang ‘pas-pasan’ ini mendapat peringkat kedua dan akan berdiri disampingmu Raka? Aku malu, sangat malu hingga aku tak lagi fokus mendengarkan siapa seseorang yang akan berdiri disampingku nanti.

Degg..degg...
Aku merasakan jantungku bekerja keras hingga menimbulkan ledakan-ledakan aneh untukku. Aku terus merasakannya walau prosesi pemberian hadiah itu telah usai.
“Wah Rana hebat deh, aku juga pengen masuk tiga besar!” ucap Dara, sahabat ku.
“Ah kamu Da, aku juga nggak nyangka kok. Belum lagi bisa berdiri disamping Raka, aku deg-degan banget tahu nggak.” Balasku dengan diselingi curhat.

Dia sahabatku, tentu saja ia mengetahui bagaimana perasaanku terhadap Raka. Aku pun mengetahui hal yang sama, ia menyukai cowok tinggi yang duduk berseberangan dengan ku. Cowok itu Dafi, cowok berkuit hitam manis, berambut lurus dan bertubuh tinggi itulah yang menarik perhatiannya.
“Ra, Dafi peringkat berapa ya?” tanya Dara padaku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, sebuah suara yang tak asing bagiku menyapa.
“Rana, selamat ya.” Ujarmu.
Ah Raka, kamu membuatku sangat malu.
“Eh Raka, ee..makasih. Kamu juga, selamat ya!” balasku gugup.

Waktu terus berputar seiring dengan perkembangan hari, berkembang pulalah kedekatan kita. Sejak kuberanikan diri untuk menyapamu lewat ‘pesan singkat’ dengan alas an menanyakan tugas kelompokku bersamamu, hubungan kita semakin dekat. Awalnya, kukira kau menyukai ku, bahkan aku berpikir kamu akan meminta hubungan lebih dari sebatas teman. Memang iya, tapi hanya sebatas sahabat. Tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang lain, jika mereka dekat dengan seorang lelaki maka kelanjutannya adalah ‘pacaran’, hal yang belum pernah ku lakukan.
“Rana, tugas matematikamu sudah selesai belum?” tanyamu pagi itu.
“Seperti biasa Ka, bolong-bolong!” jawabku dengan wajah cemberut.
Dengan kebaikan hatimu, kamu mengambil sebuah buku bersampul biru dan memberikannya padaku.
“Thanks Ka, kamu baik banget.” Ucapku dengan tersenyum gembira.

Kitapun terus sejalan hingga akhirnya menempuh jenjang yang lebih tinggi, kelas IX. Tapi sayang, aku terpisah dengan banyak teman kesayanganku. Termasuk kamu dan Dara, begitu pula dengan Bu Faizah, guru favorit kita. Ramainya suasana kelas tetaplah membuatku merasa sepi disini, belum lagi aku tengah duduk bersama dengan seorang perempuan yang juga menyukaimu. Maria, dia juga menyukaimu Raka. Yang membedakanku dengannya sangat banyak, ia memiliki banyak kelebihan dariku. Postur tubuhnya lebih tinggi, kulitnya putih bersih, penampilannya diluar batas anggun, belum lagi ia merupakan salah satu vokalis ‘grup’ music sekolah. Sedangkan aku? Sangat jauh dibawah darinya.
“Rana, keperpustakaan bareng yuk!” ujarmu memanggilku.
“Ria, aku keperpus dulu ya. Mau ikut?” tanyaku sok akrab.
“Nggak Ra, nanti aku ganggu kalian belajar lagi.” Balasnya dengan wajah yang kurasa adalah milik seorang pencemburu.
Maafkan aku ya, Maria.
Selama diperjalanan menuju perpustakaan, kamu terus menceritakan banyak hal-hal lucu tentang kelasmu.
“Maklum, IX-C Ra, jadi anaknya gitu-gitu. Lucu!” ujarmu disela-sela tawa kecilku.

Saat kita melewati ruang guru, Bu Faizah memanggilmu.
“Raka, nanti siang temui Ibu diruang guru ya.” Pintanya.
“Baik Bu.” Balasmu semangat.
Setibanya diperpustakaan, seorang Ibu penjaga ruang membaca itu menyapaku.
“Rana, tumben jarang kesini.”
“Iya Bu, banyak tugas dikelas. Belum lagi, minggu depan sudah les.”

Setelah melakukan obrolan ringan, akupun segera menghampirimu yang telah duduk mematung dikursi favorit kita.
“Hei Ka, lagi ngarang puisi ya?” tebakku.
Sejak aku menjadi sahabatmu, kamu menjadi seseorang yang cukup terbuka. Aku pun mengetahui hobimu yang sama denganku kala itu, mengarang puisi.
“Iya, nih buat kamu. Bacanya dirumah aja ya Ra!” sahutmu dengan memberikan beberapa lembar kertas padaku.
“Oke bos!” ujarku dengan menempatkan diri disampingmu.
Sepulang dari sekolah, dengan cekatan kuraih beberapa lembar kertas yang semula berada di Lks Matematika itu.

For : Ranasya Anggraini
Mentari
Kau annggun dalam setiap lukisan cahaya
Kau surga bumi nan menyejukkan kalbuku
Kau penerang dalam gelap malamku
Mentari
Telah kutemukan dirimu dibumiku
Dan engkaulah itu.....
Tertanda
Raka Dwitama

Jika ini mimpi, kuharap takkan ada yang membangunkanku untuk meninggalkan kata-kata indah ini. Surat cintakah ini? Raka membuat surat cinta untukku?
Hari hari terus berlanjut, diperjalanan itulah Raka terus mengirimiku bait-bait indah itu. Oh Tuhan, aku tak ingin mematikan hari-hari itu. Namun tanpa sepengetahuanku, Raka menjalani hubungan ‘tersembunyi’ dengan Syela. Lihat saja, ia bahkan tak membiarkan Syela ditembus sang surya saat matahari yang terik memasuki area bimbel hari itu. Dan akhirnya, aku mengetahuinya melalui pembawa gossip terhangat sekolah yang bernamakan Elisa.
“Wah selamat ya Ka, kalian serasi ko.” Tulisku pada Blackberry messagger.
“Aku hanya ingin membantunya Ra. Syela selalu dikejar-kejar temanku yang notabennya adalah mantan kekasihnya. Kebetulan, rumah kami berdekatan dan tentu saja, ia segan mendekati Syela kembali setelah tahu bahwa kami berpacaran.” Balasnya.
~Oh, jadi itu alasannya. Tapi, benarkah demikian Ka? Entah mengapa, aku sedikit meragukanmu.~
Rasanya, aku hancur dan sangat menyedihkan. Aku baru mengalami derita cinta kepada sahabat yang mesti selalu terpendam dihatiku.

Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Raka, dia sibuk dengan kegiatan bersama Syela. Kamu jahat Ka! Lantas, untuk apa surat-surat itu? Aku sakit karenamu!
“Rana..” panggilmu.
“Ada apa?” jawabku datar.
“Kamu marah?”
“Tidak, aku hanya tidak ingin mengganggumu dengan Syela. Nanti dia cemburu lagi sama sahabatmu ini!”
“Ish kamu Ra, itu hanya hubungan palsu.”
“Be,,benarkah”
“Iya, aku mencintaimu.”
“Ra..ka,, kamu ini, becandanya keterlaluan deh!”
“Beneran, itu Cuma hubungan palsu ko. Lagian, Syela sudah mendapat paca baru. Jadi, peranku sebagai pacar palsunya udah clear. So, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
“Ha? Kamu nggak lagi bercanda kan Ka?”
“Nggak. Jawab dong Ra, mau nggak!”
“Emm, aku minta waktu deh.”
“Berapa lama? 1 second, 2 minutes, 3 hours, or 1 day?”
“Hehe, 1 day1”
“Ok.”

Jika memang ini benar-benar bukan mimpi, ku mohon panjangkan umurku untuk besok dan hari-hari selannjutnya. Aku merasa menyesal karena telah meminta waktu untuk menjawabnya, dan berandai-andaipun telah menjadi pilihan.
“Raka, aku mau ko jadi pacar kamu.” Ujarku disela makan siang kita.
“Sahabat jadi cinta nih?” balasmu dengan tersenyum manis padaku.

Akupun mengangguk.
Kita telah sepakat untuk hanya melakukan hubungan secara sembunyi-sembunyi. Itulah keinginanku dan keinginanmu. Kita adalah pribadi yang tak menyukai keramaian, kita merupakan pribadi yang menyukai ketenangan. Itulah yang kau ungkapkan diwaktu itu.
Hari berlalu menjadi minggu dan bulan, dua bulan sudah kita menjalani hubungan tersembunyi dibalik persahabatan ini. Tapi, teman-temanku mulai mempertanyakan kejelasan statusku dengan dirimu. Kuakui, aku bukanlah penyimpan rahasia yang setia. Beberapa sahabat karibku mengetahuinya, seperti Dara, Vivi, Nifa, dan Nina. Mereka menanyakan kejelasan hubunganku denganmu, Raka. Sebab, kedekatanmu dengan beberapa orang perempuan membuat mereka curiga. Mungkin, itulah hati seorang sahabat yang teramat bersimpati pada saudara sehatinya. Hal itulah yang membuatku meragukanmu, hingga akhirnya peistiwa itu terjadi. Peristiwa yang kurasa lucu, aku tak menegurmu namun kamu tak marah padaku. Ingatkah dengan apa yang kau katakan?
“Ra (sayang), kalo ngambek tambah imut loh..”
“Ih Raka...”

Kita baikkan dan harmonis kembali, walau terkadang keraguan itu kembali hadir dihatiku. Mengapa selalu aku yang sering memulai, bukan dirimu. Kamu jarang mengirim pesan walau hanya untuk menanyakan sudahkan aku makan? Raka, aku meragukanmu lagi.
Perlahan-lahan, ujian itu telah tiba didepan mata, ujian yang menakutkan dan mengintai kelulusan.
“Ra, semangat ya!” ujarmu yang kala itu duduk bersebelahan denganku.
“Ok, semangat juga ya Ka!” balasku dengan tersenyum simpul padamu.
Waktupun berlalu, ujian telah selesai dan mengharuskan kita untuk menunggu. Dan saat ini, aku berdiri disampingmu dengn harap-harap cemas. Aku yakin, kamu memang bisa mempertahankan juara kelasmu, sayang. Sedangkan aku? Entahlah, aku ragu.
“LULUS”

Lima kata itulah yang membuatku hampir berjingkrak jika aku tidak mengingatmu yang berada disampingku. Akan sangat memalukan bukan jika aku berjingkrak-jingkrak didepanmu? Tapi, intaian perpisahan tengah menghantuiku. Aku diharuskan untuk mengikuti perpindahan kerja orang tuaku ke Banjarmasin, sedangkan dirimu akan tetap meneruskan SMK pilihanmu di Surabaya. Tapi lihatlah, hari ini adalah hari perpisahan kita. Dihari itu, aku memakai kebaya berwarna coklat. Sedangkan kamu terlihat keren dengan kemeja putih dan celana hitammu. Karena tempat duduk itu diatur berdasarkan nomor urut peserta ujian, aku dan kamu berdampingan. Ingatlah, disaat teman-teman sekolah mengatai kita. Mereka tersenyum-senyum melihat kejadian ini. Dimana sepasang ‘kekasih’ mendapat keberuntungan oleh sebuah kebetulan. Namun, hal berat telah menantiku untuk mengatakannya padamu.
“Raka, besok lusa aku akan pergi ke Banjarmasin. Aku akan melanjutkan sekolahku disana, e... bagaimana dengan hubungan kita?”
“Kita long distance!”
“Yakin?”
“Kamu meragukanku atau kamu yang tidak mau?”
“Bukan begitu,, aku mau ko.”
Itulah pertemuan terakhirku denganmu, karena kesibuknmu dalam mengurus pendaftaranlah yang menyebabkan hari terakhir ku di Surabaya tak berjalan dengan baik. Bahkan, sangat tidak baik bagiku. Raka, untukmu aku menangis meninggalkan kota kelahiranku ini. Untukmu dan beberapa sanak saudaraku disini, serta untuk beberapa sahabat yang telah kuanggap saudara sehatiku. Aku menangis, Raka. Tidakkah kamu ingin hadir disini?, seperti beberapa bulan yang lalu kau hapuskan air mataku.

Satu bulan, dua bulan, hubungan kita tetap harmonis seperti dulu. Namun, dibulan ketiga kamu mulai berubah. Perhatianmu berkurang, sms mu pun jarang dating, apalagi telepon, kamu bahkan tidak melakukannya. Raka, tidak pentingkah aku dihatimu? Untungnya, kesibukanku dijejaring social cukup mampu membuatku ‘tak’ resah dengan keadaan kita. Aku mulai rajin membaca beberapa kata mutiara dan artikel berlafadzkan islam, agama terindah yang pernah ku kenal. Hingga disuatu hari, aku membacanya.
“PACARAN ITU BOLEH, TAPI......”
1) Tidak ada pegangan tangan.
2) Tidak ada waktu berduaan.
3) Tidak ada status hubungan.
4) Tidak ada kata mesra bergelantungan.
5) Dan yang utama, harus setelah NIKAH.
“ It’s not shame to be a Jomblo,
Be proud.... be a Josh
~~ Jomblo Sampai Halal ~~

Aku tertohok, sangat tertohok dengan apa yang baru saja kuperoleh melalui android phone-ku. Jujur saja, aku merasa hina akan diriku, aku munafik dihadapan Tuhanku. Entah sudah berapa banyak butiran dosa yang telah ku buat. Haruskah aku memutuskan hubungan ini? Hubungan yang telah kujalin hampir 365 hari bersama Raka, sahabat sekaligus kekasihku. Baiklah, aku akan menunggu hari ke-365 yang akan berlangsung tiga hari kedepan. Lebih dari itu, aku tidak ingin terus mengganggu Raka. Ia telah menjadi ketua dibergai organisasi, iapun menjadi salah satu anggota Osis.
“Ra, kita putus!” tulismu melalui pesan singkat.

Aku menangis, padahal inilah yang aku inginkan. Raka, aku belum memiliki kekuatan untuk ini. Ku mohon, beri aku sedikit ketabahan untuk menjawabmu.
“Iya.” Tulisku.
“Tapi, kita tetap sahabat ya Ra. Aku nggak mau kehilangan sahabat baik sepertimu.” Balasmu lagi.
“^_^” hanya itu yang dapat kutuliskan padamu.

Beberapa bulan telah berlalu, aku hanya mendapat beberapa pesan dan kabar darimu. Lambat laun, kita tak pernah saling mengabari. Dan hari ini, aku mendapat status hubungan barumu dijejaring social facebook.
“Berpacaran dengan Dewi Ramadhani”
Itulah yang kudapatkan distatus hubungan facebook mu. Untungnya, aku telah bergabung dengan beberapa komunitas yang membuatku sedikit melupakanmu. Disanalah kutemukan berbagai hal baru yang tak pernah kupelajari.

Akhir-akhir ini, kamu mulai menghubungiku kembali dengan beberapa kalimat motivasimu. Kuakui, kamu telah mampu mewujudkan cita-cita mudamu. Gelar ketua Osis telah kau dapatkan dengan mudah. Dan lengkaplah sudah ketenaranmu, hingga kembali muncullah desiran-desiran itu. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri dibumi, agar aku tak lagi berjumpa denganmu walaupun hanya sebuah ketidaksengajaan. Ya, kita bertemu disebuah jalan raya. Tatapan mata kita bertemu, hingga akhirnya senyumku terulur untukmu.
“Senyum yang kurindukan!”
“Ah tidak, ini tidak boleh. Astagfirullahh...”

Hari demi hari terus berlalu, aku dan kamu semakin dewasa menapaki samudera lautan yang penuh dengan ombak ini. Kita telah bermetamorfosis menjadi mahasiswa. Aku kembali melanjutkan kuliahku di Surabaya, pelajaran bahasa arablah pilihanku. Dua tahun tak bertemu membuatku merasa malu saat bertemu denganmu. Kamu terlihat dewasa dengan kemeja batik berlengan pendek dan celana jeansmu, sedangkan aku tampak berbeda dengan rok panjang, baju longgar dan jilbab besarku.
“Wah, kamu jauh berbeda ya Ra. Semakin dewasa!” pujimu.
“Kamu juga berubah kali, tambah dewasa!” balasku disela-sela menuruni tangga bersamamu.

Lambat laun, kita mulai akrab kembali. berbagai macam pesan kau kirimkan kembali padaku. Namun maaf, permintaanmu tak dapat kuterima dengan persetujuan. Karena kini, aku harus menjaga iffah dan harga diriku sebagai seorang muslimah.
“Maaf Ka, aku tidak bisa untuk mengulangnya kembali. Aku, aku, aku sudah dikhitbah.” Jawabku yang kali itu mengejutkan wajahmu.
“Dikhitbah? Siapa?” tanyamu.
“Tunggu saja undanganku!” sahutku dengan segera berpamitan padamu.
Lihatlah, aku ingin menangis karenamu.

Senin, 12 Juli 2020
Raka, inilah akhir perjalanan cintaku yang tak berujung bersamamu. Melainkan dengan orang lain yang hadirnya lebih jauh terlambat dari kedatanganmu dihatiku. Seorang ikhwan yang merupakan anggota aktif di Lembaga dakwah kampusku, yang akupun turut aktif didalamnya. Hidup ini adalah piihan, dan itulah pilihanku. Farid Arrasyidi Muhammad, kaulah jawaban atas semua munajat dan sujud panjangku. Bismillahh.....

The End

Karya : Hanida Ulfah
[Continue reading...]

Adakah cinta sejati itu

Pergantian tahun dari 2012 ke 2013 , sudah lama Dian menantikan tahun ajaran ini .Dimana Dian sudah memasuki SMP favoritnya .

Pagi ini begitu cerah, Dian berjalan dengan santai memasuki SMPnya, padahal dia tau bahwa sekarang ia baru pertama MOS dan tidak baloeh terlambat, sesampainya di sekolah barunya dia bertemu teman SDnya dulu Jessica . Merekapun bercakap - cakap hingga bel , Dian dan Jessica segera berbaris dilapangan . Karena Dian tidak memakai atribut lengkap , Dian jadi dimarahi oleh kaka osis yang galak abis , dan parahnya Dian disuruh lari keliling lapangan 6 putaran .

Setelah bel istirahat Dian menceritakannya pada Jessica , tentang kak osis yang galak itu .
“ Gila , Jess masak gue disuruh keliling lapangan 6 kali sama kak osis itu ! “ kata Dian yg terhanyut emosi.
“ Lo juga sihh yg salah knpa artribut gak lengkap begitu ??? “ kta Jessica yg mulai menenangkan Dian.
‘’ Ihh Jessica , kok malah belain kak osis yang galak itu ? “ sembur Dian dengan keras.
‘’ Ya udah sabar aja ,ya Dian. “ jawab Jessica .
Bel berbunyi Dian dan Jessica kembali ke lapangan . Para osis mengumumkan besok sudah mulai belajar biasa . Dian menarik nafas dan berkata dalam hati “ huhh akirnya MOS ini berakhir juga ‘’
Keesokan harinya Dian dan Jessica ternyata satu kelas .Dan Dian pun mulai berkenalan dan mempunyai banyak teman , diantara semua teman barunya ada teman yg paling dekat denga Dian dan Jessica, mereka bernama Tasya , Mira , dan Gita .Murid-murid belajar dengan serius sampai bel istirahat berbunyi .

Tetttttt………
“ Nah anak-anak pelajar kali ini kita lanjutkan minggu depan ,ya. “ kata Ibu Mita
“ Yaaa bu. “ jawab anak – anak serentak .
Seperti biasa Dian dan kawan –kawan pergi kekantin untuk sekedar berbelanja dan mengobrol santai .

Mita membuka percakapan .
“ Sebenarnya aku sudah lama mencintai Rino teman sekelas kita. ” kata Mita
“ Ia aku juga sebenarnya sudah lama mencintai kak osis yg memarahimu waktu pertama MOS. “ kata Tasya .
“ Kalo aku sudah punya pacar dari SMP lain , dia itu dulu teman sekelasku namanya Reza. “ kata Gita .
“ Kalo aku baru pacaran sama Kak Leo, dia kakak kelas kita, kelas dua. “ kta Jessica
“ Kalo kamu Dian ? siapa pacar kamu ? “ kta Tasya , Gita , Mita , Jessica, secara serentak .
“ Aku tidak punya pacar ! Karena pacaran akan menyakitkan nantinya .” jawab Dian.
“ Lo kenapa begitu ? apa jangan – jangan gara-gara Anton, yg dulu pergi meninggalkanmu, dan kamu masih mencintainya ? “ kata Jessica asal.
“ Bukan aku takut nantinya akan dihianati !” kata Dian lirih
Tiba – tiba bel tanda masuk berbunyi lima sekawan pun masuk kelas . Jessica tidak bisa berkonsentrasi, gara – gara omongan Dian tadi.
Sesampai dirumah Jessica terus memikirkan omongan Dian kalau pacaran nantinya akan dihianati !Tetapi seiring waktu berjalan Jessica melupakan omongan Dian, dia berpikiran kalo Dian omongan Dian itu salah.
Hari Minggu ini Jessica pergi jalan – jalan bersama Cleo, tetangganya dia pergi kesebuah taman untuk sekedar berlari pagi. Saat itu dia bertemu pacarnya Leonardo, Jessica mendengar percakapan Leo dengan selingkuhannya dan merekamnya . Ahh Jessica mendengar perkataan Leo bahwa dia tidak punya pacar ! Jessica lalu menghampiri Leo dan menampar pipinya, dan Jessica bilang “ SEKARANG KITA PUTUS “ lalu Jessica lari tanpa mendengar perkataan Leo. Jessica menyuruh Cleo pulang, Jessica beralasan tidak enak badan, padahal dia marah kepada Leo, pacarnya.
Sesampai dirumah Jessica ingin curhat di diarynya dia pun menulis dengan menitikan air matanya, isi diarynya adalah

Tanggal: 2 - 2 -2013
Dear Diary kenapa sih Leo bilang tidak punya pacar ?
Padahal sudah jelas aku itu pacarnya Leo !
Apa jangan–jangan Leo udah gak sayang sama aku ?
Ah dasar Leo, coba aku mendengar nasehat Dian sewaktu SD.
Bahwa Leonardo Arnando itu “ PLAYBOY ”
Ya, sudahlah mungkin benar kata Dian, pacaran akan berujung dihianati :’( .

Sesudah itu Jessica mengSMS empat kawan karibnya. Dan tak ada yg membalasnya, mungkin saja mereka tidak punya pulsa kali, jawab Jessica dalam hati.

Huhh…..
Setelah lama akhirnya Jessica terlelap hingga keesokan harinya, dan ketika esok harinya Jessica mendapat kabar, bahwa ada kakak kelas yg menyukainya. Dan dia juga mendapat kabar bahwa Dian sudah bertunangan dengan Bayu Kakak kelas tiga yang cool abis, dia juga tim basket.Tepat saat Jessica datang, bel pun berbunyi tanda kelas akan dimulai.Pak guru pun datang, dan memulai menjelaskan pelajaran.
Tak terasa bel istirahat sudah berbunyi setelah pak guru memberikan tugas kimia, Jessica melihat Dian berkata “ Aku tidak suka kimia “ . Jessica hanya geleng – geleng kepala.

Setelah member hormat kepada pak guru semua berhamburan keluar kelas. Termasuk Jessica dan the geng . Waktu mereka berlima sudah berada dikanti tiba tiba datanglah Kak Alex, seketika tanpa disuruh empat kawannya segera pergi meninggalkan Jessica dengan Kak Alex berdua.Kak Alex membuka pembicaraan
“ Jess, sebenarnya …. “ kata Alex mulai ragu.
“ Sebenarnya apa Kak ? “ tanya Jessica kebingungan.
“ Sebenarnya Kakak telah lama mencintaimu Jessica. “jawab Kak Alex
“ Sungguh kak ? “kata Jessica
“ Yes, could you be my girlfriend ? “tanya Kak Alex
“(Jessica hanya mengangguk kan kepala)! “
“Tapi Kakak janji gak akan mainin aku, ya kak! “kata Jessica lagi
“Ya tentu saja kakak gak akan mainin Jessica,karna kakak sayang Jessica . “jawab Kak Alex
“Aku juga sayang kakak. “kata Jessica senang

Tiba – tiba Dian , Tasya , Mita , dan Gita
“ Cieh yg udah jadian ni, jangan lupa traktir ya ! “ jawab Dian , Tasya , Mita , Gita serentak.
“ Ia, tentu saja !!!!! “ jawab Jessica dan Alex.

Sampai sekarang hubungan Jessica dan Alex semakin mesra.
Bahkan mereka akan segera bertunangan. Dan tentunya akan menikah
 
Karya :  Gusti Ayu Bintang Cahyani
[Continue reading...]

WEDDING DRESS

Pagi itu mentari bersinar cerah, tak sedikitpun ia berhenti memancarkan cahaya.

Aku duduk termenung sendiri pagi itu. Pandanganku memburu tajam pada sebuah cincin pernikahan yang kupegang.

Tak berapa lama aku dikagetkan dengan kedatangan seseorang.
"Radit, sedang apa?" ia menepuk pundakku lantas duduk tepat disampingku dan menyandarkan kepalanya dibahuku.
"Ahh, Lintang. Kau membuatku kaget."
"Kau sedang merenung?"
"Ah tidak, mana bisa aku merenung melihatmu yang segar seperti ini."
"Kita keluar yuk Dit, makan gitu atau kalau enggak kita jalan jalan."
"Ga bisa lintang, kamu kan ga boleh keluar."
"Yah Radit, ya udah kalau gitu aku telepon Andre aja suruh nemenin dia. Lintang mengeluarkan handphone dari sakunya.
"Ga boleh juga Lintang. Kamu ga boleh ketemu sama Andre." Kuambil hanpdhone Lintang dan kugeletakkan di meja sebelahku.
"Haishh, Radit ga asik."
"Maaf, kalau aku buat kamu marah." Kupandangi dalam - dalam wajah Lintang. Wajah manisnya tak bisa disembunyikan sekalipun dia marah. Mata indahnya tetap sayu meskipun dia sedang cemberut.
"Kamu jelek kalau marah."
"Aku tidak marah."
"Lalu?"
"Aku cantik!" sambil mengarahkan wajah lembutnya dekat dengan wajahku, sangat dekat. Kita berpandangan cukup lama dan hanya kulayangkan sebuah ciuman di keningnya.
"Iya cantik, udah jangan marah lagi.oke?"ucapku tersenyum padanya dan beranjak membuatkannya minum.
"Radit, lagu apa yang akan kamu nyanyikan untukku minggu depan?"
"Aku belum tahu."
"Kenapa belum tahu? seharusnya kamu sudah menyiapkannya untukku."
"Tenang saja, akan ku berikan lagu paling baik untukmu."
"Janji?"
"Tentu."
"Oke, aku tunggu lagu darimu sampai acaranya jelek karena lagumu awas ya."
"Tidak akan pernah terjadi Lintang."
"Kalau begitu aku pulang ya. Daaaa Radit." Dia berlari ke arahku dan memelukku.
"Kok pulang, minumannya?"
"Aku ingin beristirahat. Sampai bertemu besok."
Lintang adalah sosok gadis yang hebat. Dia mampu membuat pelangi saat hujan turun dihidupku

Ia bisa membuatku merasa begitu tenang saat disampingnya, dan Ia juga bisa membuat nasi goreng yang rasanya mirip dengan masakan Ibuku. Lintang, dia sederhana, penuh cinta dan selalu bisa membuat orang bahagia termasuk aku.

Kulihat piano yang terletak disudut kamarku, setelah cukup lama ku buka catatan lagu yang sudah banyak kunyanyikan untuk Lintang, dan sekarang aku tengah menggarap satu lagu lagi untuknya.

Kududuk didepan piano dan hanya diam. Sesekali kutenggelamkan wajah pada kedua tanganku, yang terlintas malah ceritaku dengan Lintang. Mulai dari kita pertama bertmeu hingga hari ini, dan akhirnya aku tahu lagu yang ingin ku nyanyikan untuknya "wedding dress".

Seminggu berlalu,
Pagi ini aku terbangun karena teleponku berbunyi dan ternyata itu sms dari Lintang.
"Jangan lupa, ini hari penting."

Segera kubergegas siap- siap. Selesai mandi kuambil kemeja putih yang baru kubeli beberapa waktu yang lalu ditemani Lintang. Namun langkahku terhenti mengamati cincin yang bersembunyi dibalik wadahnya. Kupakai kemeja putih itu dan rompi warna hitam beserta dasi yang sesuai. Begitu sudah siap ku ambil buku catatan lagu yang hendak kunyanyikan untuk Lintang.

Kuayuhkan langkahku, tak lupa cincin itu kutaruh disaku celanaku. Gugup rasanya. Langkah ini menjadi gontai. Sampai akhirnya aku sampai didepan gedung.
"Hari ini harus sempurna!" kataku dalam hati. Orang orang beserta teman temanku dan juga teman Lintang sudah berada disana. Mereka mulai menyalamiku, dan aku membalasnya dengan senyum hangat. Sambil berlalu ku masuki gedung itu, aku mencari dimana Lintang. Sampai ke bagian dalam gedung kulihat Lintang sangat anggun dengan baju pengantinnya
"Kamu cantik sekali." Pujiku kepada Lintang sambil merapikan rambutnya.
"Kamu juga tampan hari ini Radit. Senang sekali melihatmu." Lintang merapikan kerah bajuku
"Aku sangat gugup Radit."
"Sini..!" Pintaku pada Lintang yang kemudian memelukku, akupun balas memeluknya. Rasanya ingin waktu berhenti disini saja, jangan berjalan lagi. Biarkan begini saja. Aku dan Lintang.
"Lintang, Radit." suara yang tak asing membuyarkan lamunanku dalam pelukan Lintang
"Andre. Seru lintang yang kemudian berlari kearahnya."
"Sudah siap?"
"Tentu."
"Baik aku tunggu ya. Radit, terimakasih ya sudah datang."
"Iya, aku keluar dulu ya. Menyiapkan performku untuk kalian berdua."

Andre. Dia adalah sahabatku yang menyukai Lintang, dan Lintang balas menyukainya. Dan hari ini adalah hari penting untuk mereka. Aku berharap hari ini aku yang berada diposisi Andre, sayangnya Andre lebih dulu melamar gadis impianku, sehingga cincin ini hanya bisa kusimpan tanpa pernah Lintang ketahui.

Pesta pernikahan Andre & Lintang dimulai, ada yang hilang rasanya melihat merka berdua dihadapkan dengan penghulu, ingin rasanya beranjak dari tempat ini, namun aku ingat pesan Lintang bahwa aku tak akan membuat acaranya jelek karenaku.
"Sah... sah...sah." terdengar tamu undangan mengucapkannya. Betapa aku ingin menangis, betapa aku ingin berteriak sekuat tenaga, tapi hanya bisa kutahan karena Lintang memnitaku bernyanyi.

Kunyanyikan lagu wedding dress milik Taeyang, aku tak peduli lagu itu terlihat sedih atau bagaimana. Hanya lewat lagu itu kuungkapkan semua.
"I can see you in your wedding dress." begitu sampai pada lirik lagu itu aku hampir meneteskan airmata, namun dapat kutahan.

Cause you should be my lady…
Now that we are apart now we’ll show how I can’t reason…
Never felt so strong like to lead us to a happy just never endless…
They just know that we belong to each other…
Never are we going to begone…
I can see you in your wedding dress

Setelah selesai kualunkan lagu itu, kugeletakkan cincin yang kubawa dan aku beranjak pergi meninggalkan pesta pernikahan mereka. Sejak saat itu aku menghilang dari kehidupan mereka. Melepaskan Lintangku kepada sahabatku, membawa luka dan kenanganku pada Lintang dan kumulai hidup baruku tanpa Lintangku.
Nama : Niken Sulistiyani
Umur : 21 tahun
Pekerjaan : Customer Service at www.broadcastindo.com
Facebook : Nicken Sulistya
Twitter : @nikensulistya1

[Continue reading...]

BEAUTIFUL FRIENSHIP

Persahabatan .. Bukan hanya sekedar mengerti dan dimengerti .. bukan hanya sekedar membantu dan dibantu .. Persahabatan itu jauh lebih indah .. Persahabatan itu jauh lebih bermakna .. Persahabatan akan saling mengerti, merasakan, dan saling membantu .. Persahabatan itu abadi dan tidak mengenal waktu .. Demikian dengan persahabatan Gea dan Dea .. Mereka adalah dua orang anak manusia yang bersahabat sejak mereka masih duduk di taman kanak - kanak .. Perjumpaan mereka dimulai ketika mereka bertemu di salah satu taman bermain di kota Bandung. Pada saat itu, Gea yang usianya lebih muda dari Dea sedang diganggu oleh anak laki - laki yang bertubuh tinggi dan tambun .. Karena tidak suka melihat anak perempuan diganggu oleh anak laki - laki, Dea membantu Gea melawan anak laki - laki tersebut .. Gea dan Dea menyatukan kekuatan mereka untuk melawan anak laki - laki tersebut .. Tidak sia - sia, anak laki - laki tersebut akhirnya dapat dikalahkan oleh mereka berdua .. Gea dan Dea pun akhirnya saling berkenalan dan bersahabat hingga saat ini .. Sekarang mereka duduk di bangku kelas 3 SMP di salah satu SMP swasta di kota Bandung .. Suka dan duka telah mereka lewati bersama .. Berbagai ujian yang datang silih berganti mencoba untuk menghancurkan persahabatan merekapun telah mereka lewati .. Mereka seperti lilin dan sumbunya yang tidak dapat lagi terpisahkan .. Namun itu semua berubah ketika Gea ternyata menyukai seorang laki - laki angkatan mereka ..
"Dea .. Aku mau cerita nih .. "
"Cerita apa Gea ??"
"Aku lagi naksir sama cowok Dea .."
"Naksir sama cowok ?? Siapa ?? Aku kenal gk ??"
"Kamu kenal kok .. dia anaknya baik, tinggi, cakep, pokoknya sempurna deh .."
"Iya iya .. Good luck ya Gea .. Semoga kamu mendapat yang terbaik untuk kamu .. Pokoknya keputusan apapun yang kamu ambil aku selalu support kamu kok .."
"Makasih ya Dea .. Kamu emang sahabat aku yang paaaliiig baik .. Aku sayang sama kamu .."
"Sama - sama .. Aku juga sayang sama kamu .."
Tanpa terasa waktu terus berjalan .. Sekarang sudah 2 bulan sejak Gea menyukai laki - laki tersebut .. Tetapi sayang .. sepertinya cinta Gea bertepuk sebelah tangan .. Laki - laki tersebut tidak mencintai Gea .. Dia hanya menganggap Gea sebagai sahabatnya .. Tidak lebih .. Hal ini membuat Gea sedih dan putus asa .. Semua kekesalan dan kekecewaannya pun ia tumpahkan pada sahabat yang selama 7 tahun ini menjadi sahabatnya ..
"Dea ..... Aku sedih banget .. ternyata Chris tidak mencintai aku .. Aku hanya dianggap sahabat olehnya .. "
"Kamu jangan bersedih Gea .. Kamu itu cantik .. Masih banyak laki - laki yang menginginkan kamu di luar sana .. Jangan hanya karena seorang laki - laki kamu menjadi putus asa seperti ini .. Kamu kan masih ada aku dan orang - orang yang mencintai kamu .."
"Iya Dea .. Aku menggerti .. Kamu memang sahabat aku yang paliing baiik .. Kamu selalu ada untuk aku .. Kamu juga selalu support dan menghibur aku kalau aku lagi sedih .."
"Itu gunanya sahabat kan ?? Kamu jangan sedih terus ya .. tetaplah tersenyum girl .. Seyummu adalah senyumku dan kesedihanmu adalah kesedihanku .."
"Kamu memang sahabat yang paling baik untuk aku .. Aku tidak akan melupanmu Dea .. Tidak akan pernah .. sekalipun ajal datang menjemputku .."
"Aku juga tidak akan melupanmu Gea .."

Seiring berjalannya waktu Gea masih belum dapat sepenuhnya melupakan Chris .. Gea selalu berharap dapat bertemu dengan Chris dan memeluknya walaupun hanya dalam bunga tidur saja .. Di lain sisi, Ternyata Dea mendapat tugas untuk mengajari Chris dari gurunya .. Dea diminta gurunya untuk membantu Chris dalam pelajaran Matematika, karena nilai Chris sangat jauh dari memuaskan .. Walaupun dengan berat hati, akhirnya Deapun menerima tawaran dari gurunya .. Tanpa Dea sadari, ternyata hal ini justru membuka peluang agar Dea dapat menjodohkan Gea dengan Chris, tetapi ternyata Dea tidak sepintar yang diduga ..
Beberapa bulan mengajari Chris, ternyata hasil belajar Chris meningkat .. Dea pun sudah dinyatakan berhenti menjadi furu privat Chris .. Sekarang Dea sudah dapat bebas dari beban berat yang selama beberapa bulan ini menjadi tanggungannya .. Di lain sisi, ternyata Gea sudah dapat melupakan Chris dan anehnya lagi, sekarang Gea malah menjodoh - jodohkan Dea dengan Chris .. Dea tidak terlalu serius menganggapi sahabatnya tersebut .. Belakangan ini Dea memang sedang dekat dengan Chris, tetapi mereka hanya sebatas bersahabat .. Tidak ada kata cinta untuk hubungan mereka .. Dea berpikir bahawa Gea hanya bergurau saja, tetapi belakangan ini Dea mulai resah oleh perjodohan yang dilakukan Gea terhadap dirinya .. Belum lagi gossip - gossip yang beredar bahawa Dea naksir dengan Chris !!! Hal ini membuat Dea shock bukan main .. Dea tidak habis pikir bagaimana gossip tersebut dapat muncul dan dapat beredar padahal kebenarannya sangat - sangat bertentangan dengan isi dari gossip tersebut.. Dea pun menuduh Gea yang menyebarkan gossip tersebut .. Hal itu juga yang membuat Gea dan Dea akhirnya bertengkar .. Jujur ini adalah pertengkaran pertama bagi mereka selama mereka bersahabat 7 tahun .. Sangat disayangkan memang .. Hanya karena salah paham kecil dapat membuat persahabatan yang sangat kuat itu retak .. Untungnya Gea dan Dea terlalu sayang akan persahabatan mereka .. Persahabatan mereka terlalu berharga untuk dihancurkan oleh salah paham kecil yang sangat - sangat simple .. Setelah sekian lama, mereka pun akhirnya menyadari kesalahan masing - masing

drrrttt .... drrttt .. drrrtttt ..
one message received
Gea pun langsung membuka SMS yang ternyata dari Dea tersebut .. Gea sangat kaget saat mengetahui nama pengirim SMS tersebut, tetapi Gea lebih kaget lagi ketika membaca isi SMS tersebut ..
"Gea .. maafkan aku ya .. Aku terlalu jahat menuduh kamu yang bukan - bukan bahkan belum ada buktinya .. Aku memang jahat .. Maafkan aku ya .. Aku harap kamu dapat memaafkan aku .. Aku tidak betah lama - lama bermusuhan dengan kamu .. :( "

Dengan cepat Gea pun membalas SMS Dea ..
"Dea .. Maafkan aku juga ya .. Aku juga salah telah menjodohkan kamu dengan Chris .. Seharusnya aku tahu kamu tidak suka dengan Chris, tetapi aku malah menjodohkan kamu dengan Chris .. Aku juga salah .. Jadi maaf juga ya .. Aku udah maafin kamu dari dulu kok :)"
Sent

5 menit kemudian, Gea mendapat balasan dari Dea ..
"Kita tetap bersahabat kan ?? Aku kangen sama kamu .. Kita jangan musuhan lagi ya ?? Aku sedih kalau harus musuhan sama kamu .."
"Kita akan bersahabat selamanya Dea .. Di hatiku kamu tetap menjadi sahabatku yang paling baik dan mengerti aku :) Terima kasih telah manjadi sahabat yang baik untuk aku selama 7 tahun ini .."

Setelah hari itu, Gea dan Dea pun kembali bersahabat .. Tidak ada salah paham dan sakit hati lagi .. Mereka sekarang sudah lebih dewasa dan lebih saling mengerti lagi .. Tetapi ada rahasia yang belum Gea ketahui .. Bahwa sebenarnya Dea mencintai Chris .. Dea tidak berani jujur karena takut akan menyakiti hati sahabatnya itu .. Perasaan itupun Dea pendam selama berbulan - bulan bahkan bertahun - tahun .. Hal yang sama juga dirasakan Chris .. Ternyata Chris juga cinta dengan Dea .. Tetapi Chris terlalu takut untuk mengakuinya karena takut akan mendapat penolakan dari Dea .. Chris terlalu takut untuk patah hati .. Cinta Chris ke Dea pun dipendamnya selama berbulan - bulan bahkan bertahun - tahun .. Setelah mereka lulus SMP, Chris dan Dea tidak pernah bertemu lagi, tetapi rasa cinta itu tetap ada bahkan semakin tumbuh dalam hati masing - masing ..

10 Tahun kemudian
Tidak mudah bagi Dea menyimpan cintanya kepada Christ .. Dea sangat ingin bertemu dengan Chris, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya .. Selama 10 tahun ini Dea sudah banyak berubah .. Rambutnya yang dulu bergelombang dan berwarna coklat serta panjang sepinggang sekarang berubah menjadi lurus dan memiliki panjang sebahu .. Sekarang pun Dea sudah menggunakan kontak lens .. Tidak memakai kacamata seperti dahulu lagi .. Wajah Dea juga sekarang sudah semakin imut dengan matanya yang bulat besar dan berwarna coklat .. Selama 10 tahun inipun hatinya tertutup untuk pria mana pun .. Sudah banyak lelaki mapan dan tampan yang berusaha untuk mendekati Dea, tetapi hal itu hanya sia – sia saja .. Hatinya sudah terkunci dan hanya Chris yang mempunya kunci untuk membuka hatinya .. Hal yang sama juga terjadi kepada Chris .. Sekarang Chris sudah tumbuh menjadi laki – laki yang jauh lebih tampan dan lebih tinggi .. Tingginya sekitar 180 cm .. rambutnya cepak berwarna coklat .. Badannya atletis dan sudah lebih berotot dibandingkan ketika dia kelas 3 SMP dilengkapi dengan kulitnya yang putih dan bersih .. Matanya bulat besar dengan bulu mata yang lentik dan mata yang berwarna coklat .. Hidungnya mancung melengkapi penampilannya yang sudah sempurna .. Hal ini membuat Chris dengan cepat menjadi cowok idola semua perempuan, tetapi perempuan – perempuan tersebut harus menelan kekecewaan karena hati Chris bukan untuk mereka, melainkan untuk Dea .. Chris juga sangat rindu dengan Dea, tetapi Chris tidak tahu bagaimana caranya bertemu dengan Dea ..

Beberapa bulan kemudian, ternyata takdir mempertemukan cinta mereka lagi .. Mereka dipertemukan sebagai rekan kerja yang sedang mengurus proyek di luar kota .. Cinta yang sempat padam itupun akhirnya berkobar - kobar kembali, tetapi mereka terlalu malu dan gengsi untuk menunjukkan cinta mereka .. Tampa terasa waktu pun terus berjalan .. Proyek tersebut sudah selesai dikerjakan dan mereka tidak akan berhubungan lagi .. Deapun bercerita kepada Gea sahabatnya tentang perasaanya kepada Chris ..
“Gea .. Aku bingung deh .. Aku sangat mencintai Chris, tetapi sepertinya Chris tidak mencintai aku .. Aku harus bagaimana Gea ??”
“Kamu harus sabar Dea .. Aku yakin kamu akan mendapatkan laki – laki yang terbaik untuk kamu, karena kamu layak mendapatkan itu ..”
“Terima kasih ya Gea kamu sudah selalu mendukung aku .. Aku sayang sama kamu ..”
“Sama – sama Dea .. Itu gunanya sahabat bukan ??”
Dea tidak dapat berbicara apa – apa lagi .. Dea hanya dapat memeluk Gea dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengirimkan sahabat yang begitu baik seperti Gea ..

Di lain sisi, Chris bingung bagaimana menyatakan cintanya kepada Dea .. Tetapi sepertinya dewi fortuna sedang berpihak padanya .. Chris menemukan buku kenangan perpisahannya ketika Chris masih SMP !!!
“Halo Dea .. Aku mau ajak kamu hang out nih ..”
“Ayo lah .. Aku juga lagi suntuk nih ..”
“Okey girl .. Aku tunggu di Restaurant Atmosphere jam 7 malam .. Jangan lupa dandan yang cantik ya .. Bye .. See you soon girl !!”
“Byee ..”

Tiba – tiba perasaan Dea tidak enak .. Dea curiga pada sahabatnya itu, tetapi perasaannya tersebut dibuangnya jauh – jauh karena Dea takut akan salah paham lagi dan bermusuhan lagi dengan Gea seperti ketika mereka masih SMP dahulu ..

Pkl 19.00 Restaurant Atmosphere
“Gea mana sih ?? Tumben – tumbennya dia telat ..”

Dea berusaha menelepon Gea, tetapi hal tersebut sia – sia saja, karena telepon dari Dea tidak diangkat oleh Gea .. Ketika Dea sedang berusaha untuk menelepon Gea, Dea pun terkejut mendapati seorang laki – laki tampan yang familiar sedang masuk ke dalam restaurant tersebut dan menuju ke tempatnya sambil membawa sebuket besar bunga mawar pink .. Bunga kesukaan Dea .. Ya tidak salah lagi .. Laki – laki itu adalah Chris !! Dea sangat – sangat kaget dan tidak dapat berkata apa – apa lagi .. Chris yang baru datang pun langsung menghampiri Dea dan memberikan sebuket bunga mawar tersebut kepada Dea ..
“Hai Dea .. Ini bunga mawar untukmu .. Hari ini kamu tampak cantik sekali ..”
“Chris .. Itu kamu kan ??”
“Iya .. Apa kamu masih tidak percaya ??”
“Iya aku percaya .. Makasih yang bunganya .. Lalu kok kamu bisa berada di sini ??”

Chris tidak menjawab pertanyaan Dea, tetapi Chris langsung menarik tangan Dea ke dalam genggamannya .. Dea yang awalnya kaget dibuat tambah kaget oleh Chris .. Muka Dea sekarang sudah sangat pucat karena gugup ..
“Dea .. Dari dulu aku sayang sama kamu .. Selama 10 tahun ini aku terus nungguin kamu .. Aku udah mencoba membuka hatiku kepada wanita, tetapi tidak ada yang bisa membuat aku jatuh cinta seperti kamu membuatku jatuh cinta kepadamu .. 10 tahun aku menantimu dalam rindu yang sangat menyiksaku .. Ingin aku bertemu denganmu dan memelukmu serta merantaikan kamu denganku agar kamu tidak dapat pergi jauh – jauh lagi dariku .. Aku sangat mencintaimu Dea .. Aku ingin kamu yang menemani hari – hari aku .. Aku ingin kamu yang menjadi pendamping hidupku .. Yang selalu mendengar keluh kesahku .. Aku ingin kita dapat melewati berbagai rintangan bersama – sama denganmu .. Aku ingin menghabiskan hidupku denganmu Dea ..”

Dea yang mendengar pengakuan Chris pun tak kuasa menahan tangis yang sudah begitu membuncah dalam hatinya .. Dea pun langsung berdiri dan memeluk Chris erat – erat seakan tidak membiarkan waktu sedetikpun untuk membuat Dea jauh dari Chris ..
“Chris .. Aku juga sangat mencintaimu .. 10 tahun sudah aku menunggumu .. Aku kira ini hanya cinta remaja biasa .. Tetapi setelah 10 tahun penantianku aku sadar bahwa kamu memang laki – laki yang aku cintai .. Kamu adalah laki – laki yang terbaik untukku Chris .. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku .. Aku juga ingin menghabiskan waktuku denganmu .. Berjanjilah bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan aku apapun yang terjadi .. Aku sayang sekali padamu Chris ..”

Chris yang mendengar pengakuan cinta dari Dea pun menangis .. Chris tidak kuasa menahan tangisnya .. Chris tidak malu lagi untuk mengeluarkan air matanya .. Rasa malu tidaklah penting .. Rasa yang pertenting adalah rasa bahagianya yang tidak akan pernah dapat dilukiskan dengan kata – kata ..
Tidak disangka ternyata Gea eluar dari persembunyiannya .. Ternyata dari tadi Gea menguping pembicaraan mereka .. Gea jugalah dalang dibalik pertemuan Chris dengan Dea .. Chris sengaja meminta bantuan Gea untuk dapat bertemu dengan Dea .. Chris mendapat nomor telepon Gea dari buka perpisahan tahunan SMP mereka .. Gea pun langsung memeluk Dea ..
“Cieeee .. Sahabatku ini sudah jadian rupanya .. Kapan nih traktirannya ??”
“Dasar kamu nakal Gea .. Kamu udah bohongin aku .. Pokoknya aku sebel sama kamu ..”
“Yee .. Aku kan udah bantuin kamu .. Kalo gak ada aku kamu gak mungkin jadian dengan Chris ..”
“Iya – iya .. Dasar nyonya bawel “
“Ya udah Gea .. Kamu kan udah bantuin aku jadian dengan Dea .. Sekarang aku traktir kamu deh .. Kamu mau makan apa ??”
“Asiikkk”

Mereka bertiga pun bertaut juga .. Tidak sia – sia penantian mereka selama 10 tahun .. Penantian lama tersebut pun akhirnya dapat terbalaskan .. Tidak ada lagi kata I hate you untuk menutupi perasaan akan rasa egonya .. Yang ada kata I Miss You dan I Love You yang selalu dikatakan oleh kata hati masing – masing .. Dan tidak ada kata The End untuk mengakhiri kisah ini .. Karena ketika kita mengakhiri kisah ini, justru saat itulah kisah ini berawal ..

karya : Serline ..
Follow twitter aku ya .. @Serline_ajah

[Continue reading...]

Lucky Girl

Aku, Kasya Adelia. Nama yang tidak umum? Memang! Biarlah, itu kreasi orangtuaku. Terlahir dengan wajah innocent, manis, cantik, dan polos. Plus badan mungil dan ramping yang sukses membuat teman-temanku sirik. Aku termasuk jajaran murid pintar di kelas lho. Hanya saja, aku memiliki sifat pelupa, PD dahsyat, dan bengal. Love life? Zero. Zero! Aku hanya berharap, ada seorang prince –yang tidak harus charming– datang kepadaku dengan ketulusan yang tidak dibuat-buat!

Lagi-lagi aku kena marah guru. Padahal, aku hanya tidak mengerjakan PR. Yah, memang sih sudah yang kedua kali. Eh, mungkin yang ketiga kali. Pokonya tidak mengerjakan PR deh. Guru itu –Pak Dudung– memarahiku tanpa ampun. Di depan kelas lagi! Damn. Mau ditaruh dimana muka manisku ini? Semua teman-temanku hanya bisa tersenyum, berusaha menahan tawa. Tanpa ada yang berusaha memberikan pembelaan untukku. Huh, teman macam apa mereka? Aku hanya bisa memasang tampang innocent plus polos plus memelas ketika mendengar omelan Pak Dudung yang sepeti kereta berlokomotif tidak terhingga. Aku merutuki sifat pelupaku. Mayday mayday..
Entah mungkin Pak Dudung sedang happy, entah tersihir wajah innocentku. Tapi yang pasti, beliau tidak jadi menghubungi orangtuaku. Aku bersorak dalam hati. Beliau hanya menyuruhku berdiri diluar kelas. Yeah! Tandanya, aku bisa kabur ke perpustakaan. Sifat bengalku memang susah dilawan. Aku mana tahan harus berdiri panas-panasan di luar kelas? Segera aku melangkahkan kaki ke perpustakaan. Tempat paling nyaman di seantero sekolah. Tempat aku bisa merefresh pikiranku saat ada masalah yang menumpuk. Setiap jalinan kisah yang terdapat dalam sebuah buku, selalu sukses membuatku lupa diri dan terhanyut bersama tokoh utama tersebut.

Terpaan angin AC yang dingin segera menyambutku. Ah, sudah lama aku tidak kesini. Kegiatanku di Osis lumayan menyita sedikit waktuku. Yah, walaupun lama dalam kamusku adalah 2 hari. Ibu Rini –penjaga perpustakaan– menyapaku dengan ramah. Tanpa menanyakan alasanku yang berada di perpus saat jam pelajaran. Fiuh, big applause for her! Aku segera membalas sapaannya dengan ramah, dan berlari menuju kubikel favoritku setelah sebelumnya menyambar asal sebuah buku dari rak. Kubikel favoritku ini, terletak di paling ujung dan paling pojok. Mungkin itu sebabnya tidak ada murid lain yang menggunakan kubikel ini selain aku. Seram katanya. Padahal, menurutku kubikel ini paling oke! Disini, aku bisa leluasa membaca buku tanpa ada gangguan dari orang yang hilir mudik. Tenang pokoknya.

Oh ya, kubikelku ini juga paling banyak coretannya. Maklum, aku tidak tahan untuk tidak mencoret-coret barang. Bahkan mejaku juga penuh dengan coretan. Dan untuk hal yang satu ini, belum pernah ada guru yang memarahiku. Sebenarnya sih karena belum ketahuan, hehe. Kembali ke coretan, aku amat-sangat-sering menulis isi kepalaku di kubikel ini. Rasanya ada yang kurang gitu kalau belum menulis. Dan dimulailah tulisanku untuk hari ini.

Plis deh Pak! Jangan salahin saya dong. Emang saya bisa milih jadi pelupa apa? Bawaan lahir tao paak. Bete bete. Kayanya hari ini bakalan kelabu. Huhu.. T-T ada yang nyemangatin dong someone.. ck..
Aku tertawa sendiri melihat tulisanku itu! Sedikitpun tidak mirip dengan tulisan asliku. Sepertinya kemampuanku mengubah bentuk tulisan semakin meningkat! Aku pandangi tulisan-tulisanku yang lain. Hiyaa.. Kok sebagian galau gitu sih? Huahaha.. Aku terbahak-bahak dalam hati. Sekali lagi, aku melayangkan pandanganku. Tunggu. Ada yang aneh. Tulisan lain. Tercetak jelas di samping setiap tulisanku. Mengomentari setiap tulisanku! Menyemangati setiap tulisanku! Aku baca perlahan-lahan tulisan si misterius itu.

Semangat Sya! Kamu pasti bisa melewati hari ini dengan senyuman J
Selalu lihat sisi positifnya Sya! Kasya pasti bisa!
Hey, Kasya Adelia itu terlahir kuat! Dia gak akan putus asa, kan?
Sayang kalau wajah innocentmu tertutup ekspresi amarah. Tertawa dan tersenyum dong :D
Aku peduli, dan akan selalu mendungmu.. :)

Aku terheran-heran sendiri. Begitu banyak tulisan dari orang yang aku sendiri tidak tahu siapa. Lagipula, bagaimana dia tahu namaku? Jangan-jangan.. Aku dimata-matai! Terburu-buru aku berdiri dan mengedarkan pandanganku ke sepenjuru perpustakaan. Nihil. Tidak ada siapa-siapa. Yah, walaupun saat membacanya aku merasa ada yang melumer di dalam hatiku. Karena, dia adalah orang pertama -yang sepertinya- peduli padaku. Aku menghela nafas panjang. Segera aku menulis lagi.

Haloo.. Ini siapa yaa? Kok tau aku? Hayo ngakuuu… Jangan bikin orang penasaran dong, dosa tau. Eh, tapi big thanks for you ya.
Besok, aku harus segera kembali ke perpustakaan! Aku paling tidak tahan dengan yang namanya penasaran! Awas saja kalau dia sampai tidak membalas. Akan aku cari sampai ke penjuru sekolah sekalipun.
“Sya, lima menit lagi bel tuh,” suara ibu perpustakaan mengingatkanku.
Oh! Aku harus segera kembali ke depan pintu kelas. Kalau tidak, hiiy.. Kupingku akan semakin panas mendengar omelan Pak Dudung. Aku segera berlari keluar perpustakaan. Tidak lupa mengucapkan terimakasih –dengan berlari juga– kepada ibu perpustakaan. Dan beliau hanya bisa geleng-geleng kepala melihat salah satu murid langganannya.

Pak Dudung memang galak, Sya. Hehe.. Sabar yaa. Oh ya. Anggap saja aku Guardian Angelmu. Yang akan selalu mendukung, dan ada untukmu.Oke?
Keesokan harinya, aku kembali ke perpustakaan. Dan benar saja, orang itu membalas! Aku melotot membaca tulisannya. Guardian Angel?! Apaan tuh! Seenaknya bikin aku penasaran. Tapi lagi-lagi, aku merasa ada yang lumer di hatiku. Duh, masa aku menyukai seseorang yang bahkan aku saja tidak tahu? Dengan gemas aku menulis lagi.Angel? Ga nyata doong, hii… Ngaku dong, plis banget. Jangan main-main gini dong. Pengen ngeliat aku marah kali ya?

Oke, aku ini memang orang yang susah buat jatuh suka (well, dalam hal ini aku menghindari kata ‘cinta’). Buktinya, selama 16 tahun hidup aku belum pernah tuh naksir cowok. Yah, kecuali penyanyi favoritku –Nick Jonas. Suaranya… Wajahnya… Oke, back to the topic. Kenapa ya? Tiap kali aku baca tulisan-tulisannya, aku merasa ada yang melumer di hatiku. Aku jadi hangat luar dalam. Duh, what’s wrong with my heart? Tiap baca tulisannya, aku bisa merasakan kepedulian dan ketulusannya.

Enak aja, aku nyata kok. Manusia, real! Dan aku BENER-BENER ga ada niat MAIN-MAIN. Aku serius, Sya.Kamu boleh marah kok. Just wait and see.. Keep spirit yaa.

Lama-kelamaan, kegiatan yang kusebut “Coret-Coret-Bikin-Kubikel-Kotor” yang kusingkat “CCBKK” berlangsung rutin setiap hari. Dan anehnya, aku gak pernah sekalipun ketemuan sama orang itu. Ibu perpus gak pernah mau ngasih tau siapa orang selain aku yang make kubikel itu. Dan lagi, kalau ada orang lain yang iseng ngebaca tulisan itu, pasti bingung sendiri. Lha wong isinya macem-macem. Ada kata semangat, debat kusir, galau dan teman-temannya, sampai tentang pelajaran! Bisa dibayangin dong gimana kotornya itu kubikel? Dan tanpa aku sadari, CCBKK udah berlangsung selama lebih dari 3 minggu.

Seperti biasa, aku sedang berjalan menuju perpustakaan. Tapi, rute kelas-perpustakaan yang kutempuh sedang tidak biasa. Aku harus memutar jalan melewati ruang guru. Pak Dudung tidak sengaja membawa buku paketku yang dipinjam olehnya. Dasar guru, bukannya mengembalikan langsung. Huh.

Saat aku sampai di depan pintu ruang guru, aku bersiap membukanya. Tapi tiba-tiba, pintu itu terbuka sendiri! Kaget? Pastinya! Jangan-jangan… Hantuuu! Husssh. Segera kutepis pikiran konyolku itu. Ternyata, ada seseorang yang membukanya. Aku hanya melihat wajahnya sekilas, selain dia yang langsung memalingkan wajahnya, dia juga membawa setumpuk buku perpustakaan dan beberapa lembar kertas yang hampir menutupi wajahnya. Wajahnya terlihat kaget. Mungkin akan kecantikanku ini, hehehe. Tapi yang jelas, selembar kertas terbang dari genggamannya saat dia berjalan menjauh. Dan kertas itu jatuh tepat didepan kakiku. Penasaran, aku memungutnya. Ternyata kertas ulangan. Dan, wow! Nilai yang sempurna. Amri Affandi, pasti orang yang pintar. Saat aku melihat tulisan jawabannya, aku terperangah. Jantungku langsung berdebar tak keruan. Hatiku terasa panas. Tulisan ini.. aku bukan sekadar mengetahuinya. Aku mengenalnya!

Aku langsung berlari mengejarnya. Sia-sia aku berteriak namanya. Sayang, di kertas tersebut tidak dicantumkan kelasnya. Dia tidak ada. Heran, lari kemana sih? Cepat sekali. Aku memutuskan untuk menyimpan kertas ulangan tersebut dan pergi ke perpustakaan. Aku harus merefresh pikiranku!
Untuk kesekian kalinya, terpaan dingin AC kembali menyambutku. Ibu perpus entah mengapa tersenyum penuh arti kepadaku. Aku membalas senyumannya dengan kikuk. Kali ini, aku memilih buku dengan seksama. Memilah buku mana yang akan membawaku terhanyut dengan cepat dalam buku itu.
‘City of Bones’ tampaknya pilihan yang cocok. Aku segera melangkahkan kakiku menuju kubikel favoritku. Otakku benar-benar butuh penyegaran! Aku bahkan berniat bolos jam pelajaran. Ini semua gara-gara tulisan Amri Affandi! Tenang Kasya.. Keep calm..

Yah, ternyata ‘keep calm’ku tidak berjalan sukses. Aku terkesiap ketika ada seseorang yang sudah duduk manis di kubikelku. Dalam otakku, sudah terpampang berbagai “naskah” untuk mengusir orang tersebut. Namun, aku lebih terkesiap lagi ketika melihat wajahnya. Wajah itu.. Walaupun hanya sekilas melihatnya, aku langsung mengenalinya! Ya, tidak salah lagi. Dia adalah orang yang kutabrak tadi di depan Ruang Guru! Otakku seakan ditembak sinar pembeku. ‘Brain Freezing Time’-ku kambuh lagi. Lidahku kelu. Dia hanya tersenyum. Senyuman yang entah mengapa membuat diriku menghangat.
“Amri Affandi?”Tanyaku dengan takut. Aku menunduk, takut salah orang!
“Kasya Adelia, kan?” Balasnya disertai senyuman mautnya. Uh, aku meleleh di tempat. Aku kaget. Jantungku berdetak tidak karuan. Inikah orangnya? Orang yang berhasil membuat hatiku berdebar-debar? Aku hanya mengharapkan seorang ‘Prince’. Tapi, mengapa? Mengapa yang datang ‘Prince Charming’? Wajahnya begitu tampan. Dengan mata yang jernih dan alis yang teduh. Dihiasi kacamata tanpa frame yang sukses membuatnya semakin charming. Rambutnya hitam pekat dan lurus. Dan hal lainnya, sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Aku mengorek ingatanku. Ya, dia adalah peraih peringkat 1 paralel. Dan aku
harus puas berada di peringkat 2 atau 3. Sering disebut, ngg... Ice Prince!
“Ng.. Ak.. Kamu.. Amir –eh! Amri Affandi? Ng.. Yang suka nulis di.. sini?” Tanyaku dengan takut. Aku hanya tidak ingin harapanku kelewat tinggi. Aku takut.
“Fandi aja. Dan aku sudah memutuskan bahwa sekarang saatnya aku jujur sama Kamu. Kamu boleh nganggep aku pengecut atau apa. Aku terima. Jujur, karena aku sendiri juga gak berani untuk ngungkapin secara langsung. Dan sekarang, aku udah mengumpulkan keberanian itu,” jelasnya panjang lebar. Tapi, wait! Keberanian apa? Duh, makin geer nih!
“Kasya Adelia, Aku suka Kamu. Kamu mau berada di sisiku sekarang dan seterusnya?”,Terang Fandi dengan suaranya yang jernih. Matanya begitu penuh keyakinan, ketulusan, dan cinta? Ah, aku tidak yakin ekspresi apa itu. Yang pasti, ekspresi tersebut kontan membuatku panas-dingin, jantungku berlompatan tidak karuan.

Help! Mayday mayday! Aku meerasa linglung. Ini mimpi? Bukan. Pasti bukan, aku harap. Saat matanya memandangku, aku langsung membeku lagi. Dan dalam sekejap melumer kembali saat Fandi menggenggam tanganku. Saat itu juga aku kembali menjadi diriku. Pikiranku melayang ke tulisan-tulisan di kubikel. Dia tulus. Dia baik. Dia peduli. Dan yang terpenting, aku menyukainya. Perlahan, aku mengangguk. Dan setelah anggukan itu, aku merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia!
“Ciee.. Ice Prince..” ledekku pada Fandi. Hahaha, ternyata dia tidak menyukai julukan itu. Huu… Siapa suruh jarang senyum? Walaupun jika terhadapku, dia selalu tersenyum sih, hehehe. Aku memperhaikan wajahnya. Gawaat, sepertinya Fandi bete akan ledekanku yang tidak berhenti-berhenti. Hahaha, tapi aku tidak terlalu peduli. Meledeknya adalah hal yang menyenangkan buatku.
“Cieee pasangan jenius..” ledekku lagi. Kali ini, adalah julukan buat kami berdua. Terus terang, aku menyukai julukan itu. Dan lagi-lagi, Fandi tidak menyukainya. Aku baru akan meledek lagi, saat jeweran mengenai kupingku.
“Nona kubikel, aku laporin ke guru ya kalau kamu suka mencoret-coret properti sekolah.” Balas Fandi dengan senyuman mautnya.
Tentu saja aku langsung meleleh dan diam melihat senyumannya. Fandi yang melihatku diam, menyangka aku marah dan langsung mengecup dahiku tanda permintaan maaf.

Sekali lagi, aku merasa menjadi ‘Gadis Paling Beruntung di Dunia’.
Karya : Aisha Taqiyyah
[Continue reading...]

LOVE LIFE STORY

Ta, ada yang mau Ari omongin,” kata Nino. Aku langsung menoleh ke arah Ari yang duduk di samping aku. “Eh, gila lo, No!” balas Ari langsung. Nino mengisyaratkan Ari dengan gerakan kepalanya supaya Ari mau memberitahu apa yang disembunyikannya pada aku. Tapi Ari menolak.
“Ya udah gw yang ngomong. Maaf ya, Ta. Gw cuma mau nyampein,” kata Nino lagi dengan nada yang lebih berat dari sebelumnya. Sebenernya ada apa sih ini? Kok aku jadi takut gini ya?

Nino berdeham kecil. “Jadi gini, Ari sebenernya udah ngelakuin kesalahan. Mmm.. kesalahan yang besar.” Setiap kata yang diucapkan Nino semakin membuat kecepatan detak jantung aku bertambah.
“Beberapa waktu yang lalu, Ari lagi di taman, dan singkat cerita ia ketemu cewek dan kenalan sama cewek itu. Dia ngobrol sampai malem dan mau nganterin cewek itu pulang ke rumahnya. Namun, waktu perjalanan pulang di mobil, cewek itu ngegodain Ari. Dan.. sorry ya, Ta, gw mesti bilang ke lo kalo mereka lepas kendali.”
Aku terdiam. Mencerna kata-kata yang baru saja aku dengar. Ari yang duduk di sampingku terus memegangi tangan aku dengan lembut seperti biasanya. Namun ada yang aneh hari ini. Aku sama sekali tidak merasakan kenyamanan yang biasanya. Apa karena cerita yang barusan aku dengar?
“Ta, lo nggak apa-apa? Sorry gw harus ngomong itu ke lo,” kata Nino dengan rasa bersalah. Aku hanya memandang wajah Nino yang ada di depan aku dengan pandangan yang semakin kabur. Ya, kesadaranku hilang.
**
“Parah banget, Ta! Masa lo sampe pingsan gitu dikerjainnya!?”
Suara nyaring Putri suskses menembus gendang telingaku. “Iya, mereka jahat banget tau! Gw udah shock berat dengernya, sampe pingsan, dan ternyata itu bohongan!” balasku.
“Lo tau dari mana dia bohong?” tanya Putri mulai menginterogasi. “Ari bilang tadinya mau pura-pura sampe anniv kita seminggu lagi, tapi ternyata hari pertama gw langsung pingsan, jadi langsung dibatalin deh,” kataku menjelaskan.
“Gw rasa ada yang aneh loh. Lo mesti hati-hati sama Ari, Ta. Beneran deh! Soalnya disebut bercanda juga udah nggak wajar, Ta!” kata Putri mengomentari. “Dari dulu kali lo udah bilang terus-terusan ke gw buat hati-hati sama Ari, tapi nggak ada apa-apa kan sampe lebih dari 19 bulan ini gw sama dia pacaran.”
Putri mengangguk ragu. “Tapi jujur ya, Ta, sebagai sahabat lo sampe sekarang gw masih kurang setuju lo pacaran sama cowok tipe Ari gitu. Playboy! Orang tua lo juga nggak setuju kan kayak gw?” balas Putri lagi. “Iya deh iya, gw bakal hati-hati kok ngadepin dia.”
***

Malem minggu ini tugas banyak banget. Bukannya malem mingguan kayak pasangan lain, aku malah terdampar di kamar berduaan sama laptop. Harus di-email sekarang lagi tugasnya ke guru botak itu.

Dengan sangat malas, aku pun mengaktifkan modem di laptop dan segera sign in untuk cepat-cepat mengirimkan tugas yang udah aku kerjakan. Dan ketika aku sedang mengecek inbox, aku tertarik melihat ada email masuk dari Facebook. Aku langsung teringat akun FB aku yang hilang begitu saja beberapa bulan yang lalu. Memang sih, aku agak cuek di dunia maya dan membiarkan hal itu terjadi begitu saja tanpa mempermasalahkannya.

Karena penasaran, aku baca email dari FB itu dan dikatakan bahwa akun FB aku sudah diambil alih oleh email milik Ari. Aku sedikit terkejut dengan fakta itu, tapi aku nggak mau berpikiran macem-macem.
Lewat beberapa proses, aku mengambil alih kembali akun FB milikku dan mengaktifkannya. Setelah bernostalgia dengan FB milikku, aku penasaran melihat perkembangan FB milik Ari. Dan aku lebih terkejut lagi saat melihat deretan percakapan Ari di wallnya dengan seorang cewek bernama Dian, dengan berbagai panggilan sayang!

Aku langsung menangis. Kaget dengan kenyataan yang aku dapati.
“Halo, Ari?” sapaku lewat telepon. “Iya, ada apa sayang?” balasnya. “Aku baru bisa buka lagi FB aku, dan aku liat-liat FB kamu,” kataku sambil berusaha keras menahan tangis.

Namun seberapa keras pun aku mencoba menahannya, air mataku tetap menetes, dan tidak tertahankan lagi aku menangis dengan telepon tetap tersambung. Ari hanya diam. Mungkin kaget juga dengan kenyataan yang aku ungkapkan barusan. Kaget karena hubungan gelapnya terbongkar.
“Tata, maafin aku ya,” kata Ari pelan.
“Aku salah apa sama kamu, Ri?” tanya aku heran. “Nggak, kamu nggak salah apa-apa sama aku. 
Kamu udah terlalu baik sama aku, kamu udah mau tetep pacaran sama aku walopun banyak yang nolak aku. Bulan kemarin, kamu bangga kenalin aku di acara sweet seventeen kamu ke semua orang, kamu suapin aku first cake kamu, aku seneng jadi pacar kamu, Ta. Kamu udah perhatian banget, aku juga masih inget waktu kamu jagain aku setiap hari sampe malem waktu aku dirawat, kamu baik banget. Aku sayang sama kamu, sayang banget sama kamu! Tapi kamu terlalu baik, aku nggak pantes buat kamu.”

Kata-kata Ari terasa menusuk di hati aku. Itu membuat kenangan-kenangan yang udah selama ini aku jalani sama Ari kembali terulang dalam sekejap. Dan itu membuat aku menyangkali kenyataan di depan mata aku ini.
“Kamu sama Dian, ada apa sebenernya?” tanyaku sambil terisak.

Ari terdiam sejenak. “Aku sama Dian.. pacaran. Seperti yang kamu liat sendiri di FB aku, dan itu udah berjalan hampir 3 bulan yang lalu. Maaf,” jelas Ari. Dan itu terasa seperti tamparan keras! Semakin nyata. Semakin tidak bisa disangkali lagi.
“Tata,” panggil Ari pelan. Aku sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa sama sekali. Tangisan aku terlalu hebat untuk mampu menjawab panggilan Ari. “Tata, maafin aku ya. Mungkin hubungan kita sampai di sini aja. Kita putus ya...”
Tangisanku berhenti sekejap. Keadaan menjadi sangat sunyi, dan beberapa saat kemudian terdengar nada sambungan yang terputus. Aku menelungkupkan tanganku di atas meja belajar, dan kembali menangis sejadi-jadinya.
***

Banyak kejadian yang terjadi setelah hubungan kami putus. Mulai dari hubungan aku dengan sahabatku yang kembali saling terbuka, sampai terjadinya keretakan dalam pertemanan di kelas kami.
Memang, sangat sulit mengakui kenyataan kalo Ari bukan lagi siapa-siapa. Apalagi saat dia lebih memilih Dian daripada aku, dan beberapa cewek setelahnya yang ia pacari setelah putus dari aku.

Saat ini, kalo kamu yang merasa sebagai Ari membaca cerita ini, aku cuma mau bilang kalo selama ini bodohnya aku masih terus berharap hubungan kita bisa kembali lagi. Tapi dengan segala apa yang telah kamu perbuat sampai saat ini, membuat aku semakin yakin kalo kamu memang bukan yang terbaik buat aku.

Sekarang, udah lebih dari setahun sejak hubungan kita berakhir. Aku berterima kasih sama kamu atas kejadian ini yang membuat aku terus belajar dalam hidup. Aku maafin kamu. Dan aku berharap jangan ada lagi perempuan yang bernasib seperti aku dalam hidup kamu.
 
 Karya Marita
[Continue reading...]

pacar makan temen

Matahari mulai mendaki kaki sang langit. Perlahan-lahan beranjak dari peraduannya, hingga kehangatannya mulai terasa oleh makhluk-makluk bumi. Tak begitu panas, namun cukup hangat hingga membuat orang malas keluar rumah lantaran takut kena sinar UV. Namun bagiku itu adalah anugrah, karena dengan begitu aku bisa nyuci baju yang belum aku cuci seminggu dan menumpuk di pojok kamar kecil kosan ku.

Aku Vika, sejak awal masuk kuliah di Universitas Jember aku tak pernah punya kenalan cowok yang cocok di hatiku buat jadi pacar plus driver buatku. Yahhh…. Akhirnya gini deh, kemana-kemana harus on foot with my soulmate, Tiara. Tapi gag papa, karena temenku yang satu ini gokil banget, waaupun sebenernya kita udah sahabatan dari awal masuk SMK, tapi kegokilannya jadi makin parah setelah masuk kuliah ini.

Tak kusangka nomor nyasar dua hari yang lalu menjadi awal dari cerita ini. Awalnya sih dia kirim message ke aku. Akunya sih biasa aja, kan emang dasarnya cewek cuek-cuek gitu. Padahal kalo’ dicuekin balik pasti gag mau.
“Mau aku jemput gag..?? mau yaa.. yaaa..yaaa… sekalian ketemuan gitu”, katanya lewat sms yang dikirim ke my cell phone setelah aku bilang kalo’ aku lagi di bus, habis mudik. Dan aku iya’in aja. 
Kan lumayan dapet ojek gratis. Hehehe…
Ketika aku turun dari bus aku bingung yang mana orangnya, karena ini adalah pertama kita ketemu semenjak kita chat lewat message seminggu yang lalu. Dan di seberang jalan tepat arah jam dua belas aku melihat sesosok tubuh sedang menunggu. Mungkinkah dia..??
“Vika yaaa…,” katanya sambil menghampiriku.
“Iya… kamu Findra ta…??” sahutku kemudian.
Lalu dia menjabat tanganku seperti orang maaf-maafan pas lebaran. Aku tertawa dalam hati. Akupun berfikir kekonyolan macam apa ini hingga membuatku salah tingkah seperti ini. Tanpa ku sadari aku senyam-senyum sendiri tak tau apa yang sedang ku fikirkan.
“Thanks ya… dah nganterin jemput and nganterin aku ke kosan..” kataku sesampainya di depan pintu gerbang kosanku yang agak mewah itu.
“Oke… kalau butuh apa apa hubungi aku, jangan sungkan sungkan…” jawabnya sambil melontarkan senyuman.

Dan Findra pun berlalu pulang. Namun benakku masih merekan jelas bayangannya. Tak kusangka dia orangnya baik, enak diajak ngomong, lucu, nyambung, and yang terpenting aku ngerasa nyaman didekatnya. Duuhhh… kok jadi aneh gini sih aku..
“Kenapa kamu senyam-senyum gitu, kesambet setan darimana loe chuy…”, celetuk sahabatku Tiara yang tiba tiba muncul di hadapanku.
“Gila loe, aku kaget nie..” sahutku.

Aku pun berlalu meninggalkannya yang masih melongo kayak kebo di depan pintu kamar gara gara heran lihat aku senyum senyum. Mungkin dia baru sadar kalau senyumanku ini bisa mengalihkan dunianya. Dan itulah yang terjadi, dunianya beralih menjadi dunia yang penuh tanda tanya.
Lama lama aku kasihan juga melihat sahabatku, dari tadi aku saksikan wajahnya menyimpan pertanyaan. Akhirnya aku putuskan untuk menceritakan apa yang membuat aku seperti ini. Dan dia Cuma melongo, dan kali ini dia gag kayak kebo tapi lebih parah lagi, dia kayak sapi ompong yang gag punya gigi. Namanya aja ompong jelas aja gag punya gigi, dasar oon gue.

Tiga hari kemudian aku diajak nonton sama Findra. Setelah nonton kita berdua dinner, terus muterin alun-alun gag jelas tujuannya sambil ngobrol gag jelas juga. Lalu kita berhenti di kedai ice cream cone kesukaanku and Tiara. And disitu dia nyatain perasaannya sama aku. Dia nembak aku. Dan aku langsung kena tembakannya. Jadi malam itu aku jadian sama dia.
Seminggu berlalu, dan aku punya rencana nyomblangin Tiara sama sepupunya Findra, Herma namanya. Dua hari kemudian mereka jadian. Dan itu tandannya aku berhasil jadi mak comblang. Wahh, jadi kayak kontak jodoh aja nih aku.
“Besok mudik gag chuy..??” Tanya Tiara sepulang dinner sama Herma.
“Kasih tau gag yaaa…” celetukku menggodanya.
“Hhhmmm… kalo’ pulang sih ayo bareng aja, soalnya aku mau dianterin Herma, ntar kamu sama Findra yaaa…” terangnya kemudian.
Aku berpikir sejenak, lalu manggut manggut pertanda setuju.

Waktu mudik pun tiba. Sudah biasa bagi anak kos seperti kami selalu pulang saat week end tiba, jika nggak punya uang. Tapi kalo’ masih full kantongnya kami hanya menunggu next week end. Namun mudik kali ini akan lebih panjang karena seminggu full kita libur untuk minggu tenang. Suara sepeda motor yang berhenti di depan gerbang kosanku membuatku harus cepat cepat keluar, karena aku tau kalo’ itu Findra and Herma driver and co driver kami. Hehehe.

Dan benarlah bahwa mereka telah siap untuk mengantar para putri ke istana. Akhirnya kamipun meluncur menuju ke terminal Pakusari, tempat dimana aku dan Tiara biasa menunggu bus. Sesampainya di terminal kami berempat saling chatting. Findra pacarku, asyik ngobrol dengan sahabatku Tiara tanpa menghiraukan keberadaanku dan Herma. Namun aku tak curiga sedikitpun, karena aku percaya sahabatku tak mungkin menyakitiku.

Bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dan kami pun berpisah. Setelah aku dan Tiara masuk ke dalam bus, Tiara cerita tentang apa yang dia omongin sama Findra tadi. Sahabatku ini memang selalu terbuka denganku. Apapun yang ia rasakan entah itu sedih atau bahagia, pasti dia selalu menceritakannya padaku.

Suatu sore setelah dua hari aku berada di rumah, Tiara memberi tau aku kalau dia putus sama Herma. Aku tanyai apa alasannya putus, dan dia menjawab kalau ternyata Herma sudah punya pacar. Aku jadi ngerasa bersalah sama dia, karena aku yang menyomblangkannya dengan Herma. Tapi aku berusaha menenangkan diri dan mencoba menghibur sahabatku itu. Akhirnya diapun merelakan hubungannya yang harus kandas secepat itu.

Tak kusangka kalau putusnya Sahabatku dan Herma akan berimbas padaku. Dua hari kemudian Tiara memberitahuku sebuah berita yang sebenarnya tak ingin kudengar, karena itu sungguh membuatku muak. Sebenarnya aku tak mau mengingatnya, tapi karena aku harus bercerita padamu jadi terpaksa deh ku buka kembali memori otakku untuk mengingat kata kata itu. Dan inilah kata-katanya lewat message yang dikirimkan padaku..
“Chuy kamu ngerasa aneh gag sih sama Findra..?? masa’ dia bilang gini ke aku… I LOVE YOU..”
Dan setelah itu aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Findra. Walau aku tau sahabatku tak mungkin menghiraukan kata-kata itu. Namun aku ngerasa Findra memang bukan untukku dan dia kayaknya gag beneran sayang sama aku. Buktinya dia masih ngelirik sahabatku. Bahkan disaat statusnya masih pacaran denganku dia berani bilang LOVE pada sahabatku sendiri.
PROFIL PENULIS
Nama : Titin Dewi J.P
Facebook : thychothevylietax64@facebook.com
[Continue reading...]

KENANGAN INDAH DI POHON MANGGA


Siang ini terlihat sangat mendung. Awan tak seputih kapas. Udaranya mendung namun hawanya sangat panas.
“sungguh aneh dan tak biasa.” pikir ku dalam hati.

Ku tatap kembali pohon dibelakangku yang kini menjadi tempat berteduh RACHEL LOVE VREDO .
“aahhh....aku kangen banget sama kamu Do” aku memandang nama ku dan nama Vredo yang dihiasi ukiran berbentuk love di tengahnya. Yah Vredo adalah kekasih ku, kekasih yang sangat aku sayangi. Dan aku sedang menunggu nya dibawah pohon mangga yang ada di tepi danau ini. Pohon cinta yang menjadi saksi terjadinya cinta ku dan Vredo.
“Aell..” sebuah suara yang terdengar sangat riang memanggil nama ku. Ku alih kan pandangan ku pada arah suara itu dan ternyata dugaan ku benar itu adalah suara Vredo kekasih ku.
“Vredo...”aku berlari menghampiri Vredo di pinggir jalan, Vredo pun ikut menghampiri ku setengah berlari.
“aku kangen kamu Do” aku memeluk tubuh Vredo dengan erat. Vredo pun membalas pelukan ku dengan penuh kasih sayang dan rasa rindu yang mendalam.
“aku juga kangen kamu Ael. 1 minggu serasa 1 tahun bagi ku, aku bener-bener kangen sama kamu cantik, sama wajah kamu dan sama kecerewetan kamu.” kata Vredo sembari mencubit kedua pipi ku dengan perlahan dan penuh kasih sayang.
“oh yah bebh aku punya sesuatu untuk kamu,semoga aja kamu suka yah.” kata Vredo sembari mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya.
“untuk aku? Apa itu beb?” tanya ku kegirangan.
“tarraaaa.....” seru Vredo sembari menyodorkan kotak kecil berwarna pink yang dihiasi pita berwarna ungu muda dan memberikanya kepada ku. Aku membukanya secara perlahan dan ternyata itu sebuah kalung dengan liontin love agak besar menggantung ditali kalung berwarna perak itu. Ku buka liontin yang berbentuk hati itu, dan nampaklah wajah ku dan wajah Vredo.
“woowww...lucu banget...makasih yah beb.” Aku memeluk vredo lagi. Aku sangat senang bisa ketemu Vredo, setelah 1 minggu kita tak bertemu, karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi kita sebentar lagi ujian, dan karena aku dan dia berbeda sekolah. Jadi jika kita ingin bertemu harus mencari waktu yang tepat. Hubungan ku dan Vredo sudah berjalan hampir 3 tahun. Kita pacaran sejak 1 SMA, Vredo adalah teman SMP ku. Aku sudah tertarik pada Vredo sejak pertama masuk SMP. Tapi Vredo resmi jadi pacar ku saat kita sudah SMA. Dia menggajak ku ke danau ini dan di bawah pohon mangga inilah dia menembak ku. Yah pohon mangga ini lah yang menjadi saksi perjalanan cinta ku selama 3 tahun. Dalam keadaan apapun,baik senang apapun susah aku selalu bertemu disini mencurahkan semua perasaan kita.

Aku dan Vredo bukanlah anak dari keluarga yang mampu, boleh dibilang kita berasal dari keluarga yang sederhana. Tapi itu semua tak menghalangi rasa sayang ku kepadanya karena selain baik dan manis dia juga pintar. Untuk masuk SMA pun dia tak perlu memikirkan biaya sekolah, karena sewaktu SMP dia selalu mendapat rangking 1 dan tentulah ia mendapat biasiswa untuk bersekolah disalah 1 SMA terfavorit dijakarta.
“Ael kamu pakai terus yah kalung ini jangan sampai hilang.” Kata Vredo membuyarkan lamunan ku. Akupun hanya tersenyum manis sembari terus memandangi liontin itu.
“sini biar aku pakai kan.” Sembari memakaikan kalung itu dileherku.
“kamu terlihat lebih cantik pakai kelung ini,aku makin seyang sama kamu, aku harap kamu bisa jadi pertama dan terakhir ku. I LOVE U SO MUCH HONEY.” kata Vredo sembari mengecup kening ku dengan mesra.
“yah pasti itu beb, I LOVE TOO SO MUCH.” Balas ku.
“oh yah kamu udah makan belum? Kita makan yuk.”ajak Vredo pada ku.

Setibanya di kafe yang jarak nya tak jauh dari danau itu. Vredo pun memesan makanan untuk ku dan dia. Sedang asik-asik nya kita menikmati makanan itu tiba-tiba “KEBAKARAN-KEBAKARAN” ada seorang karyawan kafe tempat kami sedang makan siang berteriak histeris.
“kebakaran ?” aku yang masih binggung dan tak percaya,langsung ditarik oleh Vredo.
“ayo cepat pergi dari sini!.” Vredo menarik ku dan menggenggam tangan ku dengan erat. Asap semakin tebal dan api terus menjalar kesetiap ruangan. Aku dan Vredo telah berhasil menyelamatkan diri disebrang kafe. Vredo masih menggenggam erat tangan ku. Keringat dingin yang berasal dari tanganya mengalir perlahan ketangan ku. Tiba-tiba ada seorang nenek berteriak minta tolong. “cucuuu ku.”nenek itu berteriak parau sambil menangis menjerit. Vredo dan aku menghampiri nenek itu.
“ nenek kenapa ? cucu nenek masih didalam ?” tanya Vredo pada nenek itu.
“yah cucu nenek masih didalam, tolong dia nak,nenek mohon.” Ucap nenek itu sambil beruarai air mata. Vredo melepaskan genggaman tanganya pada tangan ku dan hendak berlari namun dengan cepat aku meraih tanganya dan menahanya.
“kamu mau kemana beb?” tanya ku yang panik karena sudah bisa menebak maksudnya.” Aku yakin kamu tau. Plis beb aku pasti bantu anak itu.” ucap Vredo sambil melepaskan secara perlahan tangan ku.
“enggak...enggak boleh bahaya beb. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa?” aku terus menarik tanggan Vredo.
“beb kamu gak kasihan sama nenek itu kalau bukan aku yang menolong siapa lagi? Semua sibuk menyelamat kan diri sendiri.”
“kembali lah untuk ku beb.” ucap ku akhirnya. Aku melepaskan genggaman ku Secara perlahan.
“aku sayang kamu beb.” Vredo mengecup kening ku sembari berlari kedalam kafe yang hampir habis terbakar api semakin membesar. Sedangkan pemadam kebakaran tak kunjung datang.
“ya ALLAH selamatkan Vredo.” Doaku dalam hati. Selama 5 menit tak ada tanda-tanda Vredo keluar. Tak lama berselang terlihat sesosok gadis kecil berlari sembari menangis terisak-isak ketakutan. “cucuku akhirnya selamat, kamu gak papa kan?” tanya nenek itu pada cucunya dengan penuh rasa khawatir. Akupun langsung menghampiri.
“dik dimana kakak yang menolong kamu tadi.?”tanya ku penasaran.
“ada didalam kak, dia gak bisa banggun kak, aku disuruh lari jadi aku lari keluar.” ucap gadis itu. “gak bisa bangun? Maksud kamu apa?” tanya ku yang masih binggung. Aku mempunyai firasat buruk seakan paham akan jawaban dari pertanyaan yang ku tanyakan dari raut wajah muram gadis kecil itu.
“kakak itu tertimpa kayu kak, badanya ikut terbakar kayaknya. Aku lupa, karena aku langsung disuruh lari sama kakak itu.” Jelas gadis kecil itu. Butiran bening air mata ku langsung jatuh membasahi kedua pipi ku. Hati ku terasa tersayat, dan jantung ku terasa dihujam ribuan pisau.
“Vredoooo....” aku berteriak dengan sekuat tenaga yang aku punya. Aku merasa tubuh ku akan terbang, pandangan mataku mulai kabur. Aku mencoba berdiri tapi tubuh ku malah ambruk dan semua jadi terasa sangat gelap.

Saat aku tersadar aku telah berada dirumah sakit bersama orang tua ku. “sayang kamu udah sadar?kamu gak papa kan?” terlihat wajah mama ku yang cemas bercampur panik. “aku gak papa kok ma.” Jawab ku masih memandang sekeliling ku. “bener kamu gak papa?” tanya papa meyakinkan ku. Aku hanya menggelengkan kepala ku. Sesaat kemudian aku teringat akan Vredo. “Vredo..” guman ku sambil beranjak bangun.
“kamu mau kemana sayang?” mama dan papa ku membantu ku untuk bangun. “Vredo ma,keadaan Vredo gimana?”. “Vredo,memangnya kenapa dengan dia sayang?” tanya mama tampak bingung. “Vredoi terjebak di kafe itu!” aku mulai menangis histeris. ”aku harus mencari Vredo!” aku beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan kamar rawat ku. “Ael kamu mau kemana?” ku dengar suara mama yang panik, namun aku tak menghiraukanya. Aku terus berlari menyelusuri lorong rumah sakit sambil berlari dengan beruarai air mata.
“Aell..” terdengar suara seseorang memanggil ku. Ku paling kan wajah kuketempat suara itu berasal. Dan betapa terkejutnya aku,saat ku sadar ternyata itu adalah Vredo. “Vredo..” aku langsng memeluk Vredo dengan erat. “kamu kenapa nengis beb?” suara Vredo terdengar seperti biasa, tak ada yang beda.
“kamu gak papa kan beb?” aku mulai membelai wajah Vredo mulai dari rambut,telinga,dan kedua pipinya yang lembut hingga bahu dan kedua tanganya. “aku gak papa, kamu jangan nangis lagi ya? aku sayang kamu beb. I always in your heart.” Vredo mengecup keningku. Aku terpejam. Kurasakan sensasi yang aneh di hati ku. Entah kenapa kali ini kecupanya terasa begitu dalam dan dingin.
“kak Ael..” teriak seseorang dengan suara nyaring. Suara yang masih kanak-kanak. Aku langsung menoleh kearah suara itu. “kakak ngapain disitu.?” Tanya seseorang yang adalah gadis kecil yang ditolong Vredo. “kok kamu tau nama kakak sih? Dan ngapain kamu disini?” tanya ku heran. “aku lagi nyariin kakak.” jawab gadis kecil itu. “cari kakak buat apa?” aku merasa semakin binggung dan aneh. “kakak kenapa ada disini?” gadis kecil itu bertanya lagi kepada ku. “aku lagi sam Vree,”suara ku terhenti sesaat aku menoleh ke temapat Vredo berdiri tadi. Dan aku tlah menemukan Vredo tak ada lagi.
“Vredoo..Vredoo..”aku menyelusuri lorong rumah sakit sembari memenggil nama Vredo. “kak Ael ,kak Vredo udah gak ada.” Ucap gadis itu sambil berlari ke arahku. “maksud kamu apa?”aku menatap tajam gadis itu. “ayo kakak ikut aku.” Gadis kecil itu menarik tangan ku dan menggandengku menuntun kearah sebuah ruangan. Ada 2 oang polisi sedang berdiri di pintu ruangan itu. Aku membaca nama ruangan itu dengan ragu. “ka...mar..ma..yat.” seketika aku langsung mengundurkan langkah ku menjauh dari ruangan itu. Dengan perasaan takut dicampur ragu, aku bertanya pada gadis kecil itu. “mau apa kita kesini?” tanya ku dengan ragu pada gadis itu. “katanya kakak mau ketemu ma kak Vredo.” jawab gadis itu. ”tidak...gak mungkin Vredo ada di dalam.” teriak ku histeris sembari berlari kedalam ruangan itu. Dan aku melihat didalam hanya ada 1 mayat,dan itu mayat Vredo. Kubuka kain penutup wajah Vredo. Terlihat wajah yang pucat dengan luka bakar di sekitarnya. Ku kecup kening Vredo dengan berlinang air mata. Aku teringat ketika Vredo mengecup kening ku saat hendak menolong gadis kecil itu, mungkin itu kecupan terakhir Vredo buat ku.
PROFIL PENULIS
Nama Lengkap : Nining Septia
Panggilan : Tya
Add fb : Yha Prasetya Fauzie
Email : ilhamramadhan101@yahoo.com
Twitter : @fanatyaniac_tya
WhatsApp : 083181967445
Sekolah : SMK 3 Padang
Cita-cita : Akuntan dan Penulis
[Continue reading...]

aku dan si penyontek

Bel masuk baru saja berbunyi, tanda jam pertama akan dimulai. Di dalam kelas 5A, tampak wajah anak – anak tampak tegang , bercampur rasa cemas.
“ Tampangmu kusut amat Wan? Kenapa? Takut ya hasil ulangan matematikanya jelek? “ Celetuk Amir dari belakang, Wandi mengiyakan. Ya jam pertama ini adalah pelajaran matematika, dan hari ini akan dibagi hasil tes matematika yang beberapa hari lalu kelas Wandi ikutin, pantas saja anak – anak tampak tegang, mereka kuatir akan hasil tes matematika mereka, hanya beberapa anak yang tampak percaya diri.
“ Iya nih Mir, kamu tahukan kalau tes matematikaku kadang bagus, kadang juga jelek, dan tes kemarin aku hanya sanggup menyelesaikan 6 soal dengan baik dari 10 soal yang diberikan, sisanya ga yakin aku. “ Sahut Wandi
“ Mending kamu Wan, aku malah pasrah , hanya 4 nomor aja yang bisa kukerjakan, dan yakin benar. “ Sahut Acan, tampak benar kalau dia gugup banget. “ Ah kayaknya hari ini jatah mainku bakal dipotong lagi. “ Katanya lagi

Wandi, dan Amir tertawa. Saat itu juga Pak Sapta, guru matematika mereka masuk.
“ Selamat pagi anak – anak !”
“ Selamat pagi Pakkkk!!” Jawab anak – anak serentak
“ Baiklah anak – anak, Bapak akan bagi hasil tes kalian, yang namanya disebut harap maju mengambil kertas hasil tesnya. “ Kata Pak Sapta

Kemudian Pak Sapta mulai memanggil satu –persatu, anak – anak yang dipanggil maju mengambil hasil tes mereka dengan gugup, ada yang yang berteriak kecil “Yesss”, ada yang diam saja, dan ada juga yang kecewa berat karena hasilnya tidak sesuai dengan perkiraan.
“ Gimana Wan? Dapat berapa kamu? “ Tanya Amir
“ Yaa lumayan, 7 lebih baik dari yang kukira, nomor 8, dan nomor 9 walau ga sepenuhnya betul, diberi nilai nilai setengah oleh Pak Sapta.
“ Kata Wandi tersenyum puas “ Kamu sendiri gimana Mir?
“ Ya ga jeleklah, aku dapat 6. “Sahut Amir
“ Kamu dapat berapa Can? “ tanya Wandi pada Acan yang baru saja mengambil hasil tesnya, terlihat bener wajah Acan cemberut
“ Gagal total, tapi lebih barik dari yang kukira, aku dapat 5. “Kata Acan

Beberapa saat kemudian pak Sapta hampir selesai membagikan hasil tes, masih terlihat ada 2 lembar dipegang pak Sapta, dan sekarang pak Sapta pasang tampang tegas memanggil 2 orang terakhir
“ Hadi, dan Erik silakan maju ke depan.”
Keduanya maju ke depan, tapi agak kaget soalnya Pak Sapta tiba – tiba memanggil dengan nada cukup tinggi, sampai di depan kelas, Pak Sapta memandangi mereka berdua gantian.
“ Kalian berdua mendapat nilai yang sama 8..... tapi itu bukan hal yang aneh, yang membuat saya bertanya- tanya adalah jawaban kalian semua sama, yang benar maupun yang salah, bahkan sampai angka – angkanya semua sama.” Pak Sapta berhenti , dia memandang Hadi, dan Erik bergantian menunggu jawaban dari mereka berdua, tapi keduanya masih terdiam
“ Hal ini hampir mustahil terjadi 2 lembar kertas tes, dari 2 orang berbeda mempunyai jawaban yang sama persis, dan bukan hanya jawaban yang benar bahkan jawaban yang salah dan langkah – langkahnya semua sama. Kecuali.... kalian bekerja sama atau salah satu diantara kalian ada yang mencontek. “ Kata Pak Sapta dengan nada meninggi, tatapannya menjadi lebih tajam, menatap Erik, dan Hadi.
Seluruh kelas langsung ribut, dan berbisik – bisik.
“Lebih baik kalian mengaku sekarang, dan Bapak akan maafkan, dan hukumannya tes ulang, tapi nilai maksimal hanya 6. “ Kata Pak Sapta lebih tenang
“ Bukan saya Pak, tuh Erik yang mencontek saya. “ Hadi menuduh Erik, Erik jelas tidak terima, ia kemudian mendorong Hadi
“ Enak saja, kamu kali yang mencontek, aku belajar semalaman, ngapain aku nyontek. “ Erik membela diri
“ Bukan hanya kamu yang belajar semalaman, aku juga. “ Kata Hadi tak mau kalah.

Anak – anak di kelas masih ribut dan berbisik – bisik dugaan mereka, Hadi dan Erik duduk sebelahan, jadi sangat memungkinkan salah satu dari mereka mencontek yang lain. Wandi juga menduga – duga siapa yang mencontek tapi, tanpa petunjuk dia hanya bisa menduga – duga. Tiba – tiba Sherly berdiri, sambil mengacungkan jari, mungkinkah dia mengetahui siapa yang mencontek?
“ Ya Sherly ada apa?” Tanya Pak Sapta
“ Begini Pak, kenapa kita tidak minta bantuan Wandi dalam memecahkan masalah ini? Mungkin dia bisa mengetahui siapa yang mencontek “ Usul Sherly, Sherly pernah dibantu Wandi dalam memecahkan kasus perhiasannya yang hilang, tapi itu kebetulan saja Wandi mendapat petunjuk, kalau mencontek? Dapat petunjuk darimana? Kejadiannya juga sudah berlangsung beberapa hari yang lalu.
“ Wandi? “ Kata Pak Sapta menimbang – nimbang
“Ya Pak, Beberapa waktu lalu Wandi berhasil membantu saya dalam menemukan siapa yang mencuri perhiasan saya di rumah. “ Kata Sherly lagi.
Pak Sapta berpikir sejenak

“ Hmm baiklah, Wandi , coba kamu bantu Bapak. “ Kata Pak Sapta, Wandi tidak bisa menolak lagi, dia mencoba apa yang bisa dia lakukan, satu – satunya bukti yang tersisa hanya kertas tes mereka. Hadi, dan Erik pasang tampang galak pada Wandi, maksudnya jelas, kalau masing – masing berharap tidak dituduh oleh Wandi. Anak – anak yang lain mulai tenang, mereka menunggu aksi Wandi, apa sepintar yang diceritakan oleh Sherly ? atau hanya kebetulan saja.
“ Maaf Pak bisa saya melihat kertas tes mereka berdua? “ Pinta Wandi, Pak Sapta mempersilakan Wandi melihat kertas tes Hadi, dan Erik. Wandi memperhatikan baik – baik kedua kertas tes itu mungkin saja dia mendapat petunjuk. Kedua lembar tes itu sesuai yang dikatakan Pak Sapta sebelumnya, isinya sama, dari soal sampai jawaban, semua sama, hanya nama yang tercantum di kertas masing – masing saja berbeda. Wandi kebingungan, dia tidak mendapati petunjuk.
“Hmmm, semua sama, seperti kata Pak Sapta, bahkan angka – angka dan langkah – langkah pengerjaannya semua sama persis. Yang beda hanya tulisan mereka. Tulisan Hadi jauh dari rapi, berbeda dari Erik , tulisannya rapi sekali, seperti anak cewek saja. “ Pikir Wandi, Heii tulisan rapi ini petunjuk yang penting, dia mendapat perbedaan yang sangat menentukan dari kedua kertas tes itu, kemudian dia tersenyum simpul, dan menggaruk - garuk kepala , kebiasaannya kalau mendapat petunjuk untuk memecahkan kasus.
“Bagaimana Wandi? Kamu menemukan sesuatu? “ Tanya Pak Sapta, Wandi mengangguk, Hadi, dan Erik menunggu dengan was – was, seisi kelas menjadi diam menunggu Wandi buka mulut. Wandi memperlihatkan kedua kertas tes itu lagi pada Pak Sapta
“Bapak lihat kertas tes mereka Pak? Ada perbedaan yang mencolok. “ Kata Wandi

Pak Sapta kebingungan, dia yakin kalau kedua isi kertas tes itu sama, tapi kenapa Wandi mengatakan ada perbedaan yang mencolok.
“ Maksud kamu apa Wan? Isi keduanya sama, tida ada perbedaan seperti yang kamu bilang. “
“ Kalau isinya memang sama Pak, tapi kalau kita lihat penulisannya , maka kita dapat melihat perbedaan yang sangat besar. “ Kata Wandi lagi, Pak Sapta masih belu mengerti maksud Wandi, dia tahu tulisan keduanya memang berbeda, tapi itu hal yang wajar.
“ Begini Pak, kalau saya mengerjakan tes matematika pasti ada coretan – coretan kecil, ato koreksi, apalagi kalau ada jawaban saya yang salah, kecuali saya sangat pandai dan mendapat nilai sempurna, Dan lihat kedua kertas ini Pak, kertas milik Hadi , kerjaannya tidak rapi, banyak coretan dan koreksi dimana – mana, ini wajar, kertas tes saya juga demikian banyak coretan maupun koreksi, dan Bapak bisa lihat kertas tes anak – anak lain yang tidak mendapat nilai sempurna pasti ada beberapa koreksi jawaban ato coretan – coretan kecil. Dan sekarang kertas tes Erik...rapi sekali, bersih malah bisa dikatakan terlalu bersih, mustahil mengerjakan matematika serapi ini, apalagi kalau ada jawaban yang salah, kecuali.... “

Pak Sapta mengangguk – angguk , dan seisi kelas mengerti apa yang dimaksud Wandi, mustahil mengerjakan matematika selancar itu, kecuali kalau dia hanya menyalin alias mencontek. Erik tercekat dengan penjelasan Wandi, ia ingin memperotes tapi dia tidak dapat menemukan alasan yang dapat membantunya mengelak lagi, dan Hadi tersenyum puas,
“ Terima Kasih Wan, kalau tidak ada kau, mungkin aku masih dituduh mencontek. “
“ Ah, aku hanya membantu sebisaku. “
Pak Sapta juga puas dengan penjelasan Wandi, dan kini Erik hanya terdiam, dia menunggu keputusan hukuman Pak Sapta, kalau tahu kejadian bakal begini , dia pasti bakal mengaku saja tadi, tapi kini semua sudah terlambat , hukuman yang lebih berat sudah menantinya.
[Continue reading...]

Pangeran Cuek

Dinginnya pagi dan kicauan burung pagi ini mengantarkan ku melangkah untuk hari ini dan membangun kan ku dari mimpi ku malam itu dan bergegas aku menuju kamar mandi karena pagi ini aku harus masuk sekolah, dan kemudian bersiap-siap untuk berangkat tepat pukul 06.00 aku berangkat …. tpi sbelumnya aku tidak lupa mencium tangan mama dan berpamitan . Menikmati jalan yang ramai alu lalang dan pohon-pohon di tengah kota Surabaya dengan menggunakan motor dan papa sebagai supirnya ….. Emm gag terasa akhirnya sampai juga di depan gerbang sekolah ku bergegas aku turun dan melepas helem dan jaket kemudian gak lupa mencium tangan papa ….

Mengawali sekolah dengan senyum …… melewati koridor sekolah menuju kelas,sesampai di kelas seperti biasa aku menerima pelajaran dari Bapak/Ibu guru ,bercanda sampai narsis pun kita laluin yang penting buat kita seneng .jam pun menunjukkan 12.00 bell sekolah pun berbunyi tanda usai aku dan 2 orang sahabat ku pun bergegas meninggalkan kelas dan bergegas pulang …..

Jam menunjukkan pukul 15.00 aku bersiap-siap untuk pergi Take Filem bersama 5 orang kelompok ku……take pun mulai dan hari pun semakin gelap bintang pun bertaburan di langit.

Dan dia datang……… aku gag pernah menyimpan perasaan apa pun ke dia dan malam itu bagi kuw bisa aja dan gag ada bedanya aku dan dia tpi ada yang beda sama tatapan matanya penuh tanya ……..

Dia cowok cuek ,gag mau tau dan aku blm pernah lihat dia perhatian sama seorang cewek tpi malam itu dia seperti bukan sii cuek yang aku kenal meski aku gag seberapa deket sebelum nya tpi srdikit banyak aku tau dia orang yang seperti apa……..mungkin prasaan ku aja ….. take pun selesai pukul 22.00.

Malam pun berganti pagi yang indah dengan matahari yang cerah ……. gag lupa aku buka akun facebook ku…cz cuma facebook yg temenin aku setelah pangeran kodok ku nyakitin aku …. emmm sudah lah ……..eitz gag taunya dia OL kurang lebih si cue’ hidup lagi hahahahah….maav ya !

Gak lama dia chat buat nyapa……dari yang dasar sampai maksut tujuan dia chat pake’ngombal lagi biasa cowok kan gitu ! ! gag bisa tidur katanya mikirin aku ( hemm…..gag mempan ) yang katanya beda kalau lagi dekat aku dan masih banya’lagi yg dia bilang …… tpi yg buat aku gag habis pikir dia bilang

Sii cuek : ” Sudah lama aku nyimpen prasaan suka ama kamu tapi gak ada kesempatan buat aku, baru sekarang aku bisa bilang sama kamu ”

Aku : (Dan aku mulai panik ….ni orang bercanda apa serius ????? tpi jawab aja “wih lagi belajar nembak cewek ya keren kata-kata mu , aku doain di terima dech “.

Sii cuek : (Trus dia gak nyerah) ” aku serius suka kamu jangan pura-pura gak tau ta…apa jawabanya ??? ” iya ” or ” gak “……aku harap iya .

Mulai buat ku mati gaya gak tau musti bilang apa asal-asal jawab

Aku : Masak nembak lewat chat Live dong pasti gak berani .

Sii cuek : Sapah bilang gak berani !! ya udah entar kalo’aku udah siap aku bakal bilang langsung ke kamu.

Aku : Okey aku tunggu ya ( berharap dia gak mungkin berani bilang )

Pagi berganti sore,sore berganti malam aku yang lagi sibuk milih baju dan siap-siap berangkat ke acara tahunan memperinagati Hari Kemardekaan ,biasa di bilang tasyukuran yang di mulai pikul 19.00.Tiba-tiba Hp ku berbunyi tanda sms masuk , sapa ya ??? ( bertanya dalam hati ) aku terkeju ternyata yang sms Sii cuek dia bilang kalau dia mau ke rumah ku 5 menit lagi sampai .

Saat itu rasa panik ku bulai menghantui ku dan membuat ku berfikir aku musti jawab apa kalau dia tanya masalah itu lagi dan sejenak aku memikirkan perasaan ku ke dia dan mencari jawaban atas pertanyaaan dia dan gak lama akhirnya aku punya jawabanya dan aku berharap jawabanku gak salah .amin…

Dia datang dan membuat rencana awal ku hancur berantakan, gak salah lagi setelah sedikit basa basi akhirnya dia bilang ke aku secara LIVE dan aku gag percaya cowok se kaku dan secuek dia bisa suka sama aku . ( hemm jadi PD aku hehee ) dan aku mulai beraksi dengan 1000 pertanyaan yang aku lontari ke dia merki gak banyak yang dia jawab tpi aku cukup puas mkin dia buat aku .

Akhirnya malam itu juga tanggal 23/08/2012 aku resmi jadian sama Sii cuek upps karena udah jadian sekarng panggilnya Pangeran cuek ( berharap dia yang terbaek buat aku dan terima aku apa adanya )

By ; Sealo Ozawa
[Continue reading...]
 
Copyright © . Cerpenazza - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger